Ekonomi

Emas Tertekan Risiko Inflasi Global, Perak

Jakarta, Maret.id — Pergerakan pasar logam dunia bergerak variatif di tengah lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Emas mencatat pelemahan dengan harga spot turun 0,2 persen menjadi 4.007,91 Dolar AS per ons.

Kontrak berjangka emas AS pengiriman Agustus juga menyusut 0,1 persen ke 4.015,90 Dolar AS per ons.

Komoditas logam mulia lainnya menunjukkan penguatan, dipimpin perak spot yang melonjak 1,2 persen ke 56,55 Dolar AS per ons.

Paladium naik 0,9 persen ke 1.258,83 Dolar AS per ons, sedangkan platinum terkerek tipis 0,1 persen ke 1.592,86 Dolar AS per ons.

Tekanan pada emas dipicu oleh penguatan yield US Treasury 10-tahun sebesar 0,4 persen dan Indeks Dolar AS (DXY) yang naik 0,2 persen.

Penguatan yield dan DXY memangkas daya tarik emas bagi pemegang mata uang selain dolar, karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Eskalasi militer di Timur Tengah, termasuk serangan Iran terhadap aset AS dan aksi blokade laut oleh Houthi di perairan dekat Arab Saudi, mendorong lonjakan harga minyak Brent.

Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran akan inflasi global baru yang berpotensi mempertahankan suku bunga The Fed pada level tinggi sehingga menekan emas.

Data FedWatch Tool dari CME Group mencatat ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada Desember naik menjadi 83 persen dari 73 persen pada pekan sebelumnya.

Analis Meger memperkirakan The Fed akan lebih mengandalkan penyesuaian neraca, dan jika langkah tersebut diterima positif oleh pasar, hal itu dapat menjadi pendorong pemulihan harga emas.

Pergerakan ini mempertegas sensitivitas pasar logam terhadap kombinasi faktor moneter dan geopolitik, serta implikasinya terhadap strategi lindung nilai para investor global.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button