Purbaya: APBN Siap Tambal Defisit Pembiayaan PFII

Jakarta, Maret.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat dipakai menutup kekurangan dana untuk pengembangan tahap awal Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Menurut Purbaya, sumber pendanaan utama pembangunan PFII tetap berasal dari investor dan modal awal yang disiapkan oleh Danantara.
Peran APBN menurutnya bersifat antisipatif untuk kebutuhan operasional awal, termasuk pembayaran gaji sumber daya manusia jika diperlukan.
“Nanti kan investornya akan mengeluarkan dana pertama untuk membangun di sana, termasuk macam-macam. Cukup besar uangnya, bukan APBN. Tapi in case mereka kekurangan uang untuk membayar gaji-gajinya, bisa ditutup oleh APBN untuk sementara dalam jangka waktu tertentu,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya menegaskan porsi APBN yang disiapkan tidak akan besar dibandingkan kebutuhan keseluruhan yang sebagian besar didukung oleh Danantara.
Purbaya juga enggan merinci besaran anggaran yang disiapkan pemerintah dan menyatakan kewenangan publikasi angka berada pada pihak Danantara.
“Tanya Danantara aja angkanya jelas berapa, bukan wewenang saya untuk mengeluarkan angka itu. Tapi saya (APBN) antisipasi enggak besar-besar amat, karena yang digelontorkan oleh Danantara menurut saya sih lebih dari cukup. Ini kan untuk jaga-jaga aja,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan pihaknya belum bersedia mengungkap nilai dana yang akan dialokasikan untuk pembangunan PFII.
“Akan ada tahapannya ya. Nanti kita juga ada masuk ke investment committee dan yang lain-lainnya. Jadi akan ada tahapannya,” ujar Rosan Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara.
Rosan menambahkan pemerintah telah berdiskusi dengan beberapa pengelola pusat keuangan internasional, termasuk Dubai International Financial Centre dan Abu Dhabi Global Market, untuk mengadopsi praktik terbaik.
“Possibility juga saya kira konsultannya dari timnya DIFC, dari mantan CEO-nya DIFC. Jadi untuk memastikan bahwa ini benar-benar sesuai dengan best practice yang ada, yang sudah berhasil, seperti contohnya yang di Dubai itu,” ujar Rosan Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara.





