Pasar Logam Mulia Meroket Dipicu Meredanya Tensi Geopolitik

Jakarta, Maret.id — Pasar logam mulia global mencatat lonjakan harga secara luas pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026, setelah didorong oleh harapan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Potensi peredaan konflik di Teluk dipandang mampu menurunkan gejolak pasar energi dan mereduksi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve.
Emas spot memimpin penguatan dengan melonjak 1,6 persen ke level 4.068,29 Dolar AS per ons pada penutupan perdagangan tersebut.
Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup pada 4.076,40 Dolar AS per ons setelah naik 1,5 persen.
Perak spot mencatat kenaikan paling tajam sebesar 4,1 persen ke 58,72 Dolar AS per ons, sementara platinum naik 1,9 persen menjadi 1.623,63 Dolar AS per ons dan paladium melesat 2,4 persen ke posisi 1.282,25 Dolar AS per ons.
“Telah menerima draf proposal dari pihak mediator terkait gencatan senjata selama 10 hari guna menyelamatkan kesepakatan sementara yang sempat tertunda,” ujar Pejabat teras Iran, pejabat pemerintahan Iran.
Berita itu meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak Teluk yang sebelumnya memicu spekulasi inflasi tinggi dan tekanan terhadap suku bunga acuan AS untuk bertahan lebih lama.
Meski emas menjaga perannya sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, biaya peluang memegang logam mulia tanpa imbal hasil saat suku bunga naik tetap menjadi faktor pembatas.
Investor global bersikap cermat menjelang rapat kebijakan moneter dua hari The Fed pekan depan, dengan perhatian pada pernyataan Ketua The Fed.
Mengutip CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September diperkirakan berada di sekitar 68 persen.
Pergerakan harga logam mulia ini berpotensi mempengaruhi aliran modal dan strategi lindung nilai korporasi, serta menjadi indikator sentimen risiko yang lebih luas di pasar keuangan dan komoditas internasional.





