ECB Buka Sinyal Kenaikan Suku Bunga, Tekanan pada Saham Eropa

Jakarta, Maret.id — Pasar saham Eropa ditutup melemah tajam karena lonjakan harga energi, meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi, serta sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank Sentral Eropa (ECB).
Ketegangan geopolitik, termasuk konflik Amerika Serikat-Iran dan serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker di Laut Merah, mendorong harga minyak Brent menembus level 100 Dolar AS per barel.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan bertahan sehingga suku bunga dapat dipertahankan lebih lama, sementara ECB menahan suku bunga acuannya namun membuka peluang kenaikan jika tekanan harga energi berlanjut.
Tekanan jual meluas di seluruh bursa utama Eropa dengan Indeks Euro STOXX 50 turun 1,7 persen ke level 6.210, STOXX Europe 600 melemah 1,3 persen menjadi 638, CAC 40 Prancis terkoreksi 1,6 persen ke posisi 8.299, DAX Jerman turun 1,56 persen atau 392,29 poin ke level 24.763,12, dan FTSE 100 Inggris ditutup melemah lebih dari 0,5 persen.
Sektor barang mewah, teknologi, dan perbankan menjadi penekan utama pasar pada sesi itu.
Saham Kering anjlok 4,8 persen, LVMH turun 4,3 persen, Hermès melemah 3,4 persen, dan L’Oréal kehilangan 3,1 persen setelah sentimen negatif terkait laporan kinerja Moncler.
Di sektor teknologi, STMicroelectronics merosot 17,7 persen akibat proyeksi penjualan kuartal ketiga yang di bawah ekspektasi.
Sektor perbankan juga terpukul dengan UniCredit turun 4,8 persen di tengah kekhawatiran atas rencana akuisisi Commerzbank, diikuti BNP Paribas melemah 2,8 persen dan Société Générale turun 2,9 persen.
Saham perusahaan penerbangan EasyJet tertekan setelah laba kuartal ketiganya merosot 70 persen, sementara Centrica anjlok 10,4 persen.
Di tengah pelemahan luas, sektor energi dan pertahanan justru mencatat penguatan, dipimpin oleh TotalEnergies yang naik 2,5 persen setelah membukukan kenaikan laba bersih disesuaikan sebesar 68 persen menjadi US$6,03 miliar.
BP menguat 3 persen dan Shell bertambah 1,7 persen, sedangkan Thales melonjak 5,1 persen berkat lonjakan pesanan pada semester pertama yang melampaui ekspektasi pasar.
Pergerakan pasar mencerminkan kombinasi risiko pasokan energi global dan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, yang berpotensi memperpanjang volatilitas di bursa Eropa dan mempengaruhi sentimen investor global.





