Wall Street Rontok, Dow Jones Ambles 500 Poin Menekan Pasar

Jakarta, Maret.id — Kenaikan tajam harga minyak seiring memanasnya konflik di Timur Tengah memicu aksi jual besar-besaran di bursa saham Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 24 Juli 2026, waktu setempat.
Laporan keuangan Alphabet dan Tesla yang mengecewakan semakin membebani sentimen investor, terutama di sektor teknologi.
Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 506,93 poin atau 0,97 persen ke level 51.711,65; S&P 500 melemah 1,21 persen menjadi 7.408,30; dan Nasdaq Composite anjlok 2,15 persen ke 25.137,69.
Nasdaq mengalami tekanan terbesar karena kejatuhan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang menimbulkan koreksi luas di sektor tersebut.
Saham Alphabet turun sekitar 7 persen setelah perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal untuk pengembangan kecerdasan buatan, membuat investor khawatir lonjakan investasi akan menekan arus kas dan profitabilitas.
Saham Tesla anjlok sekitar 14 persen setelah perusahaan melaporkan laba kuartalan jauh di bawah ekspektasi dan mencatat arus kas bebas negatif.
Harga minyak mentah Brent, acuan internasional, melonjak hingga menembus 100 Dolar AS per barel menyusul serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah dan ancaman Presiden AS, Donald Trump, untuk menyerang infrastruktur Iran.
Lonjakan harga energi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, dengan tenor 10 tahun sempat menembus 4,7 persen dan tenor dua tahun berada di sekitar 4,37 persen.
Pasar kini memberi harga lebih dari 80 persen kemungkinan bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September, mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi dan pengetatan kebijakan moneter.
Gejolak itu diperkirakan akan berdampak pada pasar global dan sektor perdagangan energi, sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar saham negara berkembang yang sensitif terhadap harga komoditas dan perubahan arah kebijakan moneter.





