Rupiah Tertekan, Inflasi Melejit Tekan Daya Beli

Jakarta, Maret.id — Pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026, nilai tukar Rupiah sempat berada di level Rp17.614 per Dolar AS, melemah 84 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pelemahan Rupiah kali ini dipicu oleh penguatan Dolar AS yang didorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve. Kondisi global tersebut membuat aliran modal mengalir ke aset-aset dolar sehingga menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Lukman juga menekankan faktor harapan pasar terhadap perbaikan hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan China sebagai pemicu penguatan indeks Dolar AS. Ia memperingatkan bahwa penguatan dolar tersebut menambah tekanan pada mata uang-mata uang pasar negara berkembang di tengah ketidakpastian hasil pertemuan kedua pemimpin.
Dampak pada Harga dan Sentimen
Menurut Lukman, dampak paling cepat dari depresiasi Rupiah akan terasa pada kenaikan harga barang karena Indonesia masih sangat bergantung pada produk dan bahan baku impor. Kenaikan biaya impor berpotensi mendorong inflasi kelompok tertentu dan meningkatkan beban bagi pelaku usaha yang mengandalkan input impor.
Selain itu, Lukman mengingatkan bahwa depresiasi Rupiah dapat memengaruhi psikologi pasar dan menurunkan sentimen konsumen maupun investor terhadap prospek ekonomi domestik. Pelemahan mata uang yang berkepanjangan berpotensi menunda keputusan investasi dan mengurangi daya beli rumah tangga.
Pengaruh Pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump
Optimisme investor terhadap pertemuan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memperkuat indeks Dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan pada mata uang emerging market termasuk Rupiah. Pasar mulai menilai peluang membaiknya hubungan AS-China meski kedua pemimpin belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hasil pembicaraan tersebut.
Di Beijing pada 14 Mei 2026, Xi Jinping menegaskan bahwa hubungan antara kedua negara seharusnya dibangun sebagai kemitraan, bukan persaingan, serta menilai bahwa keberhasilan satu negara dapat menjadi peluang bagi negara lain. “Kita harus saling membantu untuk meraih keberhasilan, kemakmuran bersama, dan menemukan jalan yang tepat bagi negara-negara besar untuk menjalin hubungan di era baru ini,” ujar Xi dalam pertemuan tersebut.
Prospek dan Tindakan yang Diperhatikan
Analis memperkirakan Rupiah masih berisiko melemah terhadap Dolar AS seiring penguatan indeks Dolar di tengah optimisme pasar terhadap pertemuan antara Xi dan Trump, meskipun pertemuan itu masih berjalan dan belum ada pernyataan resmi terkait hasilnya. Pelaku pasar dan otoritas terkait diprediksi akan terus memantau perkembangan arus modal, tekanan inflasi impor, serta pernyataan resmi dari kedua negara adidaya tersebut.
Sementara itu, pelaku usaha dan konsumen diminta bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga barang impor dalam beberapa waktu ke depan, dan investor diharapkan menimbang kembali eksposur pada aset yang sensitif terhadap pergerakan dolar. Kondisi ini menegaskan pentingnya koordinasi kebijakan makroekonomi dan kewaspadaan terhadap volatilitas pasar valuta asing.





