Ekonomi

Sahate dari Dapur Rumahan Ekspor ke Pasar Global Bersama BRI

Jakarta, Maret.id — Di tengah pandemi Covid-19 dan meningkatnya kesadaran terhadap makanan sehat, Lince Sulastri melihat peluang usaha dan mendirikan Sahate di Kota Bandung pada 2022.

Dari dapur rumahnya, Lince mengembangkan camilan berbahan dasar beras berupa keripik dan kue kering yang bebas gluten dan rendah gula namun tetap gurih dan renyah.

Produk itu perlahan dikenal oleh pelanggan yang kembali membeli dan semakin banyak menerima pesanan.

Untuk mengembangkan usaha, Lince menyadari perlu memperluas wawasan dan jaringan sehingga mulai mencari program pendampingan usaha.

“Saya mulai mengenal LinkUMKM BRI pada 2024 untuk menambah jaringan pemasaran sekaligus belajar mengembangkan usaha,” ujar Lince Sulastri, Pemilik Sahate.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin, 27 Juli 2026.

LinkUMKM adalah platform pemberdayaan UMKM dari BRI yang membantu pelaku usaha memahami pasar, memperluas jaringan, dan menemukan peluang baru.

Melalui pelatihan dan pendampingan yang diikuti, Lince memperbaiki kualitas produk serta strategi pemasaran dan merasakan kemudahan transaksi digital dalam operasi sehari-hari.

“Saya menggunakan QRIS BRI untuk memudahkan transaksi karena tidak perlu lagi repot mencari uang kembalian, dan harapan saya usaha ini bisa memberikan dampak ekonomi bagi keluarga dan masyarakat sekitar serta semakin dikenal oleh masyarakat luas,” ujar Lince Sulastri, Pemilik Sahate.

Hasilnya terlihat pada peningkatan permintaan, perluasan pemasaran lewat marketplace, pameran, serta kerja sama dengan mitra di berbagai daerah.

Produk keripik beras Sahate telah lolos kurasi untuk peluang pemasaran ke Denmark dan Hong Kong, dan saat ini sedang dipersiapkan sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) untuk menjangkau pasar ekspor.

“Perjalanan Sahate menunjukkan bahwa dengan ruang untuk belajar, pengusaha UMKM Indonesia mampu bertahan sekaligus terus berkembang,” ujar Dhanny, Corporate Secretary BRI.

Kisah Sahate menggambarkan bagaimana dukungan pelatihan, pemasaran digital, dan akses ke pasar dapat mendorong UMKM Indonesia naik kelas dan menembus pasar internasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button