Ekonomi

Pasar Logam Mulia Menghijau, Paladium Pimpin Kenaikan Harga

Jakarta, Maret.id — Pasar logam mulia dunia menguat pada penutupan perdagangan Senin 27 Juli 2026, dipimpin kenaikan harga emas di tengah melemahnya Dolar AS dan turunnya harga minyak mentah ke level terendah dalam sepekan.

Penurunan harga energi terjadi menyusul meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga kekhawatiran pasar terhadap inflasi berkurang menjelang keputusan suku bunga The Fed pekan ini.

Harga emas spot naik 0,5 persen menjadi 4.074,22 Dolar AS per ons pada penutupan perdagangan, sementara kontrak berjangka emas AS pengiriman Agustus menguat 0,2 persen ke 4.077,00 Dolar AS per ons.

Penguatan emas juga didukung pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,1 persen, yang membuat logam mulia berdenominasi dolar lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.

Logam mulia lainnya juga mengalami kenaikan dengan harga perak naik 0,5 persen menjadi 58,44 Dolar AS per ons, platinum melonjak 2 persen ke 1.620,34 Dolar AS per ons, dan paladium memimpin penguatan dengan kenaikan 3,5 persen ke 1.286,25 Dolar AS per ons.

Dari sisi permintaan fisik, impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juni tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun secara bulanan turun 5 persen dibandingkan Mei.

“Penurunan harga minyak menjadi faktor utama yang mendorong perubahan ekspektasi suku bunga, harga minyak turun dari di atas 100 Dolar AS per barel pekan lalu menjadi sekitar 90 Dolar AS per barel sehingga pasar mulai memperkirakan suku bunga yang lebih rendah,” ujar Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy TD Securities.

Sinyal diplomasi Presiden AS Donald Trump terkait pembicaraan dengan Iran membuat harga minyak Brent merosot lebih dari 8 persen dan meredanya konflik meningkatkan harapan terbukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat kebijakan moneter The Fed pada Rabu (29/7) sebagai penentu arah kebijakan jangka pendek.

Data CME FedWatch Tool menunjukkan peluang sebesar 62 persen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga, sementara probabilitas kenaikan suku bunga pada September mencapai 82 persen apabila inflasi kembali meningkat.

Selain keputusan The Fed, pasar juga menunggu rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS periode Juni pada Kamis mendatang sebagai petunjuk arah pergerakan logam mulia selanjutnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button