Saham Emiten Energi Global Turun Imbas Harga Minyak

Jakarta, Maret.id — Harga saham sejumlah perusahaan minyak dunia melemah pada penutupan perdagangan Senin, 27 Juli 2026, seiring anjloknya harga minyak mentah setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Prospek dimulainya kembali pembicaraan gencatan senjata meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut memicu aksi jual pada minyak mentah yang kemudian menekan kinerja saham-saham sektor energi.
Di Bursa Efek London, saham Shell turun 1,7 persen menjadi 3.248,5 pence setelah sempat menyentuh 3.232,5 pence, dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di 3.305,5 pence.
BP merosot 3,7 persen menjadi 528,3 pence dari 548,4 pence.
Harbour Energy mencatat penurunan terbesar di antara emiten yang dipantau, yakni 6,1 persen menjadi 240,45 pence dari 256,2 pence pada penutupan Jumat.
Pence adalah satuan pecahan mata uang Pound Sterling Inggris (GBP).
Penurunan saham-saham energi sejalan dengan koreksi tajam harga minyak mentah, dimana Brent turun 6,1 persen menjadi 90,87 Dolar AS per barel pada Senin setelah pekan lalu sempat menembus level 101 Dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 5,5 persen menjadi 84,37 Dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat menyentuh di atas 93 Dolar AS per barel pada Kamis.
Koreksi harga minyak dan pelemahan saham energi berpotensi meredam tekanan inflasi komoditas dan memengaruhi prospek laba perusahaan-perusahaan energi di bursa global.
Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan diplomasi antara AS dan Iran serta indikator pasokan minyak seperti laporan stok dan produksi untuk menilai apakah penurunan harga ini bersifat sementara atau berlanjut.





