50 Ton Kopi Semende Dorong Peluang Ekspor Asia dan Eropa

Jakarta, Maret.id — Hasil panen kopi dari 23 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Sumatera Selatan berhasil menarik minat pembeli internasional.
Acara Seller Meet Buyer digelar di Aula GOR Desa Penyandingan, Semende Darat Laut, pada Rabu, 23 Juli 2026, dan sekitar 50 ton kopi Semende diminati untuk diekspor ke kawasan Asia dan Eropa Timur.
Pertemuan bisnis ini terselenggara berkat kolaborasi antara Balai Perhutanan Sosial Palembang, Pilar Nusantara Sumsel, dan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan.
Agenda tersebut dirancang sebagai wadah strategis untuk mempertemukan petani KUPS secara langsung dengan buyer, offtaker, dan eksportir demi membangun kemitraan ekonomi berkelanjutan.
Sumatera Selatan dikenal sebagai salah satu produsen kopi Robusta terbesar di Indonesia, dengan kopi dataran tinggi Semende di Kabupaten Muara Enim yang memiliki reputasi tinggi.
Kopi Semende disorot karena karakter kuat aroma dan keasaman yang seimbang, sehingga dinilai berpotensi menjadi penopang ekonomi hijau berbasis kelestarian hutan.
Perkembangan Perhutanan Sosial di Sumsel terus melaju dengan saat ini menaungi 226 Kelompok Perhutanan Sosial dan lebih dari 400 KUPS.
Selain kopi, masyarakat pengelola kawasan juga memproduksi karet dan madu melalui skema agroforestry yang mendukung keberlanjutan ekosistem.
Untuk memastikan mutu produk, para pembeli diajak berpartisipasi dalam sesi coffee cupping guna menilai langsung cita rasa dan aroma kopi yang ditawarkan.
Komitmen kerja sama kemudian diperkuat melalui penandatanganan Letter of Intent (Surat Pernyataan Minat) yang akan dilanjutkan ke tahap negosiasi transaksi komersial.
Seorang buyer menekankan pentingnya mempertahankan sistem agroforestry dalam budidaya kopi Semende karena pola tanam tersebut menjaga kelestarian alam sekaligus menghasilkan profil rasa unik yang kompetitif di pasar global.
Acara yang dibuka oleh Kabid Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kehutanan Sumsel, Syafrul Yunardi, dihadiri lebih dari 200 peserta.
Hadir pula delegasi KUPS dari KPH Semende, Kikim Pasemah, dan Dempo, serta perwakilan Bank Indonesia, lembaga pengelola hutan desa dan adat, serta pelaku usaha.
Dengan terjalinnya kemitraan dan akses pasar internasional, komoditas Perhutanan Sosial diharapkan meningkat daya saingnya dan memperkuat perekonomian masyarakat lokal.
Tekanan pasar global terhadap produk ramah lingkungan dan penelusuran rantai pasok memberi peluang bagi kopi Semende yang diproduksi melalui skema agroforestry untuk menembus pasar ekspor dengan nilai tambah lebih tinggi.
Tahap selanjutnya difokuskan pada finalisasi negosiasi komersial dan penyusunan mekanisme pengiriman agar komitmen Letter of Intent dapat direalisasikan menjadi kontrak ekspor.





