Harga Emas dan Perak Merosot Jelang Kebijakan Bunga The Fed

Jakarta, Maret.id — Harga emas dan kelompok logam mulia lainnya terkoreksi pada akhir perdagangan Selasa 28 Juli 2026 akibat tekanan penguatan Dolar AS serta meningkatnya ekspektasi sikap hawkish Federal Reserve.
Emas spot merosot 1,2 persen menjadi 4.026,49 Dolar AS per ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak 21 Juli. Emas berjangka AS pengiriman Agustus ditutup melemah 0,9 persen ke posisi 4.038,70 Dolar AS per ons.
Penurunan ini sejalan dengan terkoreksinya harga emas sekitar 24 persen sejak pecahnya konflik Timur Tengah akhir Februari lalu, yang memicu kekhawatiran inflasi energi dan potensi suku bunga tinggi dalam jangka lebih panjang.
Pelemahan pasar logam mulia turut menyeret komoditas sejenis saat perak spot merosot 2,2 persen menjadi 57,11 Dolar AS per ons. Platinum melemah 1 persen ke posisi 1.605,80 Dolar AS per ons dan paladium anjlok 2,3 persen menjadi 1.261,92 Dolar AS per ons.
Penguatan greenback yang mendekati posisi tertinggi bulanan membuat seluruh komoditas logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada keputusan suku bunga the Fed serta pernyataan Chairman Kevin Warsh pada Rabu waktu AS, di samping rilis data inflasi PCE Juni pada keesokan harinya.
Pasar memperhitungkan peluang 71 persen the Fed menahan suku bunga saat ini dan peluang 75 persen kenaikan pada September.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter ini mendorong Commerzbank memangkas proyeksi harga emas akhir tahun sebesar 300 Dolar AS menjadi 4.500 Dolar AS per ons.
Tekanan pada harga logam mulia berpeluang mempengaruhi strategi hedging dan alokasi portofolio investor komoditas global.
Kombinasi kekhawatiran inflasi energi dan ekspektasi suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pemulihan harga emas dalam beberapa bulan mendatang.





