Ekonomi

Induk Gojek dan GoPay Tetap Untung Meski Komisi 8%

Jakarta, Maret.id — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) kembali mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar pada kuartal II-2026 meski industri ride-hailing menghadapi perubahan skema komisi menjadi 8 persen yang berlaku sejak awal Juli 2026.

Capaian tersebut menjadi laba bersih kedua berturut-turut setelah perseroan mencatat keuntungan pertama pada kuartal I-2026.

Gross Transaction Value (GTV) inti tumbuh 83 persen secara tahunan menjadi Rp164 triliun, sementara pendapatan bersih meningkat 31 persen secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun.

Direktur Utama GoTo Hans Patuwo mengatakan perseroan mampu mengelola dampak perubahan skema bagi hasil tersebut.

Perubahan komisi ini diatur melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, yang menetapkan komisi aplikator untuk biaya perjalanan angkutan penumpang roda dua sebesar 8 persen, turun dari sebelumnya 20 persen.

Hans menjelaskan bahwa dampak perubahan komisi baru akan tercermin pada laporan keuangan kuartal III-2026, namun kondisi bisnis masih stabil setelah satu bulan penerapan.

Pernyataan resmi ini disampaikan di Jakarta pada Rabu, 29 Juli 2026.

“Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7 persen dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” kata Hans Patuwo, Direktur Utama GoTo.

GoTo menyesuaikan pedoman kinerja layanan On-Demand Services untuk sepanjang 2026 menjadi Rp1,4-1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun.

Kinerja bisnis fintech melalui GoPay diproyeksikan menjadi penopang pertumbuhan sehingga GoTo menaikkan pedoman kinerja Fintech untuk 2026 menjadi Rp1,7-1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.

“Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” kata Hans Patuwo, Direktur Utama GoTo.

Meski menyesuaikan dua lini bisnis tersebut, GoTo mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk tahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun.

“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” kata Hans Patuwo, Direktur Utama GoTo.

Perusahaan juga menegaskan komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi melalui berbagai Program Apresiasi Mitra.

Program tersebut mencakup dukungan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga program umrah gratis.

“Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” tutur Hans Patuwo, Direktur Utama GoTo.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button