Laba UNVR Melesat, Divestasi Bisnis Penyumbang Terbesar

Jakarta, Maret.id — Laba bersih PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada Semester I-2026 naik 37,77 persen menjadi Rp2,97 triliun, yang terutama ditopang oleh keuntungan satu kali dari pelepasan unit bisnis non-inti dan bukan oleh pertumbuhan penjualan produk.
Perusahaan kini menjalankan restrukturisasi portofolio dalam tiga tahap untuk memfokuskan bisnis inti dan merealisasikan nilai aset non-inti.
Tahap pertama adalah pelepasan bisnis es krim senilai Rp7 triliun pada Desember 2025 yang berdampak pada penyelesaian pembayaran PPN sebesar Rp770 miliar pada Semester I-2026.
Tahap kedua terealisasi pada Maret 2026 melalui penjualan bisnis teh SariWangi kepada Grup Djarum senilai Rp1,50 triliun, yang menghasilkan keuntungan bersih setelah pajak sebesar Rp870,27 miliar.
Secara keseluruhan, bisnis teh menyumbang laba dari operasi yang dihentikan sebesar Rp887,86 miliar, yang merupakan gabungan hasil operasional dua bulan pertama dan keuntungan dari penjualan aset.
Tahap ketiga berupa rencana penggabungan bisnis segmen makanan dengan McCormick & Company masih dalam proses evaluasi dan ditargetkan selesai pada pertengahan 2027.
Di luar kontribusi penjualan aset, kinerja operasional inti UNVR masih tumbuh terbatas dengan biaya pemasaran turun tipis menjadi Rp3,67 triliun.
Beban administrasi meningkat 19,52 persen menjadi Rp1,67 triliun akibat biaya transformasi organisasi dan penataan ulang rantai pasok.
Kondisi tersebut membuat laba usaha hanya meningkat 1,89 persen menjadi Rp2,59 triliun dan margin laba usaha turun menjadi 15,31 persen.
Namun, laba bersih dari operasional inti tumbuh 10,23 persen menjadi Rp2,08 triliun, yang didorong oleh penurunan beban keuangan sebesar 78,22 persen serta pengelolaan kas yang lebih efisien.
Hasil ini menandai pergeseran sumber laba UNVR dari pertumbuhan penjualan ke realisasi nilai melalui divestasi aset, langkah yang akan menentukan profil pendapatan perusahaan ke depan.





