Ekonomi

Laba Astra Susut 19% Tergerus Sektor Tambang dan Alat Berat

Jakarta, Maret.id — PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih sebesar Rp12,5 triliun pada semester I 2026, turun 19 persen dari Rp15,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dalam keterbukaan informasi pada Kamis 30 Juli 2026 disebutkan pendapatan bersih Grup menyusut 3 persen menjadi Rp157,9 triliun dan laba bersih per saham turun 18 persen dari Rp383 menjadi Rp313.

Lesunya kinerja paruh pertama ini utamanya disebabkan pelemahan pada bisnis solusi pertambangan dan alat berat.

“Pada semester pertama 2026 Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan namun penurunan kontribusi dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan,” ujar Rudy, Presiden Direktur ASII.

Tekanan paling besar berasal dari segmen solusi pertambangan dan alat berat yang laba bersihnya anjlok 46 persen menjadi Rp2,7 triliun.

Pelemahan segmen ini diakibatkan turunnya penjualan emas dari tambang Martabe, merosotnya penjualan alat berat Komatsu hingga 27 persen, serta susutnya volume produksi batu bara.

Pilar bisnis Astra lainnya menunjukkan ketahanan, terutama segmen Otomotif yang mencatat laba bersih Rp5,9 triliun atau naik 9 persen.

Kenaikan di Otomotif didorong pertumbuhan divisi Komponen sebesar 23 persen dan dominasi pangsa pasar Astra sebesar 51 persen dari total penjualan mobil nasional yang tumbuh 16 persen menjadi 437.000 unit.

Segmen Jasa Keuangan juga menunjukkan kinerja positif dengan laba Rp4,6 triliun atau naik 6 persen, didukung lonjakan pembiayaan konsumen 10 persen menjadi Rp61,8 triliun.

Segmen Lain-lain yang ditopang agribisnis dan properti mencatat peningkatan laba bersih 31 persen menjadi Rp1,6 triliun.

Untuk merespons tantangan bisnis dan ketidakpastian global, Astra mempertegas komitmen pada strategi korporasi yang berfokus pada tiga bisnis inti, transformasi kepemimpinan, dan alokasi modal disiplin termasuk eksekusi buyback saham senilai Rp8 triliun.

“Kami akan senantiasa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus memposisikan Grup untuk dapat memberikan peningkatan total imbal hasil bagi para pemegang saham serta mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Rudy, Presiden Direktur ASII.

Rudy menilai neraca perseroan cukup kuat untuk menopang strategi korporasi tersebut dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button