Rebalancing MSCI Jadi Risiko IHSG, Investor Waspadai Outflow

Jakarta, Maret.id — Hasil rebalancing MSCI Agustus 2026 berpotensi meningkatkan volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat perubahan komposisi indeks mulai berlaku.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai investor karena dapat memicu penyesuaian portofolio pada saham-saham yang terdampak.
Salah satu risiko yang harus diperhatikan adalah potensi arus dana keluar atau outflow dari saham-saham yang mengalami perubahan status dalam indeks MSCI.
Arus dana keluar tersebut berpotensi meningkatkan tekanan jual dan memengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan investor perlu mencermati potensi peningkatan volatilitas IHSG setelah MSCI merilis hasil peninjauan indeks, khususnya menjelang dan saat rebalancing mulai efektif.
“Untuk pergerakan IHSG sendiri pasca rilis pengumuman MSCI kami perkirakan akan berpengaruh pada volatilitas IHSG terutama pada hari efektif pelaksanaan rebalancing, terutama terhadap emiten-emiten yang terdampak,” ujar Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Menurutnya, arus dana keluar dari saham-saham yang terdampak dapat memengaruhi pergerakan IHSG ke depan.
“Secara historikal demikian, kalau dari sisi teknikalnya kami mencermati masih adanya potensi koreksi dari IHSG,” ujar Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Karena itu, investor dinilai perlu mencermati potensi tekanan jual yang dapat meluas akibat arus dana keluar sebagai dampak perubahan komposisi indeks.
“Kalau melihat dari sisi rebalancing mungkin investor perlu memperhatikan akan adanya potensi tekanan jual yang meluas akibat faktor outflow,” ujar Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Dalam August 2026 Index Review, Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak memasukkan satu pun emiten domestik ke dalam MSCI Global Standard Index.
Sebaliknya, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dikeluarkan dari indeks tersebut, sementara PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diturunkan ke MSCI Global Small Cap Index.
Perubahan komposisi tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026 dan mulai efektif pada 1 September 2026.
Rebalancing berpotensi mendorong penyesuaian portofolio oleh produk investasi pasif (passive funds) yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan.
Selain perubahan pada kelompok Global Standard, MSCI juga mengurangi jumlah saham Indonesia dalam Global Small Cap Index dengan mengeluarkan sembilan emiten dari indeks tersebut.
CPIN menjadi satu-satunya saham yang masuk ke Global Small Cap sebagai hasil perpindahan dari kelompok Global Standard.
GOTO menjadi salah satu saham yang mendapat perhatian dalam rebalancing kali ini karena MSCI menyatakan penghapusannya berkaitan dengan aspek likuiditas dan index replicability.
MSCI menilai kemampuan manajer investasi yang mengikuti indeks untuk mereplikasi komposisi melalui transaksi saham di pasar terganggu oleh kondisi likuiditas tertentu.
Sejak 13 Mei 2026, saham GOTO diperdagangkan pada harga minimum Rp50 yang menurut MSCI membuat proses replikasi indeks menjadi kurang optimal karena keterbatasan transaksi pada harga yang mencerminkan kondisi pasar.
GoTo menyebut keputusan tersebut bersifat teknis dan menegaskan bahwa langkah itu tidak terkait langsung dengan kinerja bisnis perusahaan.
“Keputusan tersebut bersifat teknis. Hal ini disebabkan oleh posisi harga saham kami yang berada di batas bawah (floor price) Rp50 dengan volume perdagangan yang rendah; keputusan ini bukan merupakan akibat dari kinerja bisnis,” kata Audrey Petriny, Head of Corporate Affairs GoTo.
Perubahan ini diperkirakan dapat memengaruhi aliran modal asing dan tingkat volatilitas pasar saham Indonesia, khususnya pada periode jelang dan setelah rebalancing.
Investor dan manajer portofolio disarankan memantau likuiditas serta volume perdagangan saham yang terdampak untuk menilai risiko dan menyesuaikan strategi investasi.





