Kurs Rupiah Stagnan Jelang Pidato Kenegaraan Prabowo

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar Rupiah ditutup stagnan di level Rp17.877 per Dolar AS pada perdagangan Kamis sore, 13 Agustus 2026. Posisi tersebut sama dengan penutupan pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan Rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap agenda pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto sekaligus penyampaian Nota Keuangan dan RAPBN 2027 pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen domestik masih menjadi fokus utama pelaku pasar di samping faktor eksternal.
“Nah, dari internal kita melihat MSCI masih mempertahankan pasar modal Indonesia sebagai emerging market meski ada penurunan peringkat, tetapi kondisi itu belum membuat Rupiah mengalami pelemahan,” kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas.
Ibrahim menilai keputusan MSCI tersebut memberi sentimen positif bagi pasar modal domestik dan katanya pengangkatan Pjs Gubernur Bank Indonesia oleh Presiden juga mendapat respons pasar. “Artinya bahwa MSCI memberikan sinyal positif terhadap pasar modal Indonesia, dan penunjukan kembali Pjs Gubernur Bank Indonesia oleh Presiden Prabowo mendapatkan respons positif baik dari investor domestik maupun asing sehingga rupiah kembali stagnan pada penutupannya,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas.
Dari perspektif eksternal, Ibrahim menyoroti ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran sebagai faktor tekanan pasar global. “Penyebabnya, secara eksternal ketegangan di Timur Tengah masih akan terus berlangsung antara Amerika dan Iran,” ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas.
Ibrahim mengatakan AS mengklaim pengawasan penuh terhadap Selat Hormuz, sementara Iran menyatakan kewenangan atas jalur strategis itu berada di tangan Iran dan Oman.
Menurut Ibrahim, Iran membuka peluang perdamaian dengan syarat penghapusan semua sanksi yang dijatuhkan oleh AS terhadap negaranya.
Ibrahim juga mencatat penurunan inflasi Amerika Serikat secara bulanan dan tahunan sebagai faktor yang memberi sentimen positif ke pasar keuangan global. “Kemudian yang kedua, inflasi Amerika baik secara bulanan maupun tahunan mengalami penurunan; sesuai ekspektasi, ini kemungkinan besar akan mendorong Bank Sentral Amerika mempertahankan suku bunga pada pertemuan Agustus,” jelas Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang dan komoditas.
Dia memperkirakan apabila harga minyak terus turun, bank sentral AS berpeluang memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mendatang.
Pergerakan rupiah yang stagnan mencerminkan kombinasi sentimen domestik yang relatif stabil dan risiko eksternal yang masih mengintai, sehingga pelaku pasar terus memantau perkembangan politik fiskal dalam negeri dan dinamika geopolitik internasional.





