Gejolak Harga Minyak Percepat Transisi Energi dan Investasi

Jakarta, Maret.id — Eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta dinamika pada jalur perdagangan Selat Hormuz memicu spekulasi kenaikan harga minyak mentah internasional mendekati patokan asumsi ICP sebesar USD 75 per barel.
Namun Komisi XII menilai rantai pasok dunia pada dasarnya sudah kembali normal, sementara gejolak harga minyak yang tinggi akan mendorong konsumen dan industri global beralih ke sumber energi alternatif yang lebih murah.
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya dari Fraksi Partai Golkar, menilai percepatan transisi energi menuju penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah antisipasi terukur untuk meredam dampak fluktuasi harga energi global.
“Kita lihat dari range-nya itu kan tadi sudah Presiden umumkan, (harga minyak) kita akan menuju ke 75 (dolar per) barel. Kita melihat sebetulnya secara umum rantai pasok dunia itu sudah kembali normal,” ujar Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI.
Pernyataan itu disampaikan lewat keterangan resmi, Minggu, 16 Agustus 2026.
“Tetapi ingat bahwa harga minyak dunia yang terlalu tinggi, ini justru akan mempercepat transisi energi. Mempercepat yang namanya peralihan dari penggunaan BBM kepada kendaraan listrik (electric vehicle),” ujar Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI.
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga minyak fosil pada akhirnya akan menciptakan perimbangan alami sehingga masyarakat melirik moda transportasi berbasis listrik.
“Jadi menurut saya semua akan ada perimbangannya, semua akan ada substitusinya. Jika kemudian harga crude terlalu tinggi, masyarakat sendiri dan dunia itu akan melirik kepada mana yang akan lebih murah,” ujar Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI.
Bambang juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam mempercepat ekosistem kendaraan listrik nasional guna memproteksi perekonomian dari tekanan minyak impor.
“Presiden sudah memberikan program bagaimana percepatan untuk kendaraan listrik, baik itu motor maupun kendaraan mobil. Saya pikir Presiden sudah sangat paham terhadap persoalan geopolitik ini, bagaimana persoalan energi itu tidak membelenggu Indonesia dan persoalan Timur Tengah tidak membuat satu masalah bagi kita,” ujar Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI.
Percepatan ekosistem kendaraan listrik dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dan menahan dampak volatilitas geopolitik terhadap perekonomian domestik.





