Rupiah Tertekan ke Rp17.862 per Dolar AS, Pasar Keuangan Tertekan

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, dan ditutup melemah 64 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.862 per dolar AS.
Data Bloomberg mencatat pelemahan tersebut pada penutupan perdagangan sore hari.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah yang menembus di atas 83 dolar AS per barel.
“Kebutuhan impor minyak mentah yang tinggi memaksa pelaku usaha dan pemerintah mengeluarkan pembayaran dalam denominasi dolar AS,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.
Menurut Ibrahim, lonjakan permintaan dolar AS untuk membeli minyak mentah di pasar global memperkuat posisi dolar dan menekan nilai tukar rupiah.
Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 453,4 miliar dolar AS atau setara Rp8.089,1 triliun, dan tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy).
“Posisi tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy). Angka tersebut juga meningkat dibandingkan posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 yang tercatat sebesar 444,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.928,5 triliun,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.
Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN).
Pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026, dengan keputusan kebijakan moneter yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Ibrahim memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen setelah menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April–Juni 2026.
Pelaku pasar diperkirakan akan mencermati pandangan BI terkait stabilitas rupiah, inflasi domestik, kondisi likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.
“Sikap dan panduan BI akan menjadi salah satu penentu arah Rupiah berikutnya di tengah ketidakpastian global, setelah fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir di bawah kepemimpinan Bapak Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia,” kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.





