Ekonomi

Logam Mulia Serempak Anjlok Imbas Naiknya Imbal Hasil

Jakarta, Maret.id — Pergerakan harga logam mulia dunia tercatat mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026.

Harga emas spot merosot 1,1 persen menjadi 4.364,90 Dolar AS per ons.

Emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Desember menyusut 1,2 persen ke posisi 4.420,60 Dolar AS per ons.

Tren pelemahan turut memukul logam mulia lain, di mana perak spot turun 2,8 persen menjadi 63,96 Dolar AS per ons.

Platinum anjlok 2,5 persen ke level 1.725,41 Dolar AS per ons dan paladium terkoreksi paling dalam hingga 3,1 persen menjadi 1.291,78 Dolar AS per ons.

Penurunan tajam ini terutama dipicu oleh lonjakan imbal hasil surat utang pemerintah di Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman yang mencapai titik tertinggi dalam beberapa dekade.

Biaya pinjaman jangka panjang yang meningkat membuat instrumen tanpa yield seperti emas menjadi kurang menarik bagi investor.

Tekanan pasar semakin diperberat oleh penguatan harga minyak mentah akibat eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta ancaman penutupan Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga energi.

Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran atas meningkatnya inflasi global dan memberikan alasan bagi bank sentral untuk menahan atau bahkan menaikkan suku bunga meskipun sejumlah data ekonomi AS menunjukkan tren pelemahan.

Saat ini pelaku pasar memusatkan perhatian pada rilis risalah rapat Federal Reserve untuk membaca arah kebijakan moneter ke depan.

Prospek jangka panjang emas dinilai masih positif setelah melewati fase konsolidasi.

“Volume pembelian oleh investor saat ini baru cukup untuk menopang harga di kisaran 4.000 Dolar AS per ons, sehingga diperlukan lonjakan permintaan yang lebih masif untuk bisa mendorong emas menembus level 5.000 Dolar AS per ons,” kata Bank of America, dalam laporannya.

Kondisi pasar ini berimplikasi pada strategi alokasi aset investor domestik dan asing serta menjadi indikator kunci bagi pembuat kebijakan dalam menimbang kebijakan moneter dan fiskal ke depan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button