Bursa Eropa Tertekan, STOXX 600 Mendekati Level Terendah

Jakarta, Maret.id — Bursa Eropa kembali berada di bawah tekanan setelah kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi dan mendorong indeks mendekati level terendah hampir tiga minggu.
Pada penutupan perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026, waktu setempat, STOXX 600 turun 0,11 persen ke 651,16 poin.
Penurunan terutama dipimpin sektor kedirgantaraan dan pertahanan yang merosot 1,6 persen, serta sektor perbankan yang turun 1,5 persen.
Di sisi lain, saham sumber daya dasar menjadi penopang pasar dengan kenaikan 3,3 persen.
Sektor kesehatan juga menguat 1,4 persen.
Pergerakan pasar terjadi setelah imbal hasil obligasi zona Euro menurun.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 30 tahun turun sedikitnya 1 basis poin, sementara imbal hasil tenor 10 tahun relatif stabil.
Penurunan imbal hasil sempat memberikan sedikit kelegaan bagi investor setelah imbal hasil obligasi global mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun sehari sebelumnya.
Namun, sentimen pasar masih dibayangi kekhawatiran inflasi karena harga minyak bertahan di atas 90 Dolar AS per barel.
Tekanan tersebut semakin kuat setelah lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dilaporkan melambat, sementara Amerika Serikat dan Iran masih berbeda pandangan mengenai kondisi jalur pelayaran tersebut.
Investor juga mencermati prospek suku bunga Bank Sentral Eropa dengan data LSEG yang menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga ECB sebesar total 50 basis poin tahun ini.
Di sisi korporasi, saham FLSmidth melonjak 6,3 persen setelah perusahaan industri Denmark itu membukukan pendapatan kuartal II di atas perkiraan analis.
Sebaliknya, saham Rockwool turun 5 persen meski perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan 2026 karena kenaikan tersebut masih di bawah ekspektasi investor.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada notulen rapat Federal Reserve AS bulan Juli yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga.
Sementara musim laporan keuangan Eropa mulai mendekati akhir, inflasi dan harga energi kembali menjadi faktor utama yang menentukan arah bursa.





