Ekonomi

Risiko Utang Gerogoti Ruang Fiskal Pemerintah

Jakarta, Maret.id — Besarnya belanja negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dinilai meningkatkan beban utang pemerintah dan berpotensi menggerus ruang fiskal untuk belanja produktif.

Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami, mengatakan program dan belanja pemerintah memang dapat menjadi pendorong pertumbuhan, namun kapasitas fiskal yang terbatas menuntut perhitungan pembiayaan yang cermat.

“Konsekuensi dari belanja negara adalah utang. Nah ini yang menjadi perhatian sekarang,” ujar Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45.

Menurut Nadia, besarnya beban bunga utang terlihat dari komposisi belanja negara menurut jenisnya dan pembayaran bunga telah mengambil porsi yang cukup besar.

“Bunga utang saja bayangkan sudah men-drive lebih besar tadi hampir 15 persen,” ujar Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45.

Nadia menegaskan persoalan utama bukan semata ada atau tidaknya utang, melainkan bagaimana utang tersebut dikelola agar tidak mengurangi kemampuan pemerintah membiayai program produktif.

“Intinya adalah utang ini akan menggerogoti ruang fiskal atau belanja produktif tadi. Bayangkan penerimaan kita hampir 15 persennya itu digunakan untuk membayar bunga utang saja,” ujar Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45.

Meski begitu, Nadia menilai utang tidak selalu berdampak buruk dan dalam kondisi tertentu dapat menjadi instrumen untuk mempercepat pembangunan apabila dikelola secara produktif.

“Kalau bicara soal utang sebetulnya utang itu bagus atau enggak sih. Kalau kita melihat teori dan beberapa contoh negara maju, utang itu bisa menjadi katalisator pertumbuhan,” ujar Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45.

Ia mencontohkan Korea Selatan yang mampu memanfaatkan pembiayaan untuk mendorong pembangunan hingga menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

“Kita sebetulnya dengan utang era rezim Soeharto bisa melakukan pembangunan. Tapi ketika dia berlebihan, itu akan menjadi beban sendiri buat pemerintahan dan bahkan generasi mendatang,” ujar Nadia Restu Utami, Analis Ekonomi Politik Lab 45.

Pernyataan tersebut disampaikan Nadia dalam diskusi melalui kanal YouTube Bambang Widjojanto, Kamis, 20 Agustus 2026.

Kondisi ini menuntut pengelolaan fiskal yang ketat dengan prioritas pada alokasi belanja produktif dan penguatan mekanisme pengawasan anggaran.

Tekanan pada pembayaran bunga utang menimbulkan kebutuhan untuk menyeimbangkan kebijakan stimulus ekonomi dan keberlanjutan fiskal demi menjaga ruang fiskal bagi investasi publik yang mendorong pertumbuhan jangka panjang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button