Emas di bawah bantal Warga RI 1.800 Ton, Rp4.400 Triliun

Jakarta, Maret.id — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan emas yang dimiliki masyarakat Indonesia dan disimpan secara pribadi mencapai sekitar 1.800 ton. Angka tersebut diperkirakan setara 252 miliar Dolar AS atau sekitar Rp4.400 triliun. “Emas yang ada di bawah bantal itu ada 1.800 ton. Nah kalau 1.800 ton, itu nilainya juga luar biasa, 252 miliar Dolar AS,” kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Airlangga menilai potensi nilai tersebut dapat dioptimalkan melalui peran PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI). “Jadi bagaimana tugasnya dari Pegadaian maupun BSI, yang 252 miliar Dolar AS ini, mungkin 20 persennya saja pindah dari ditaruh di bawah bantal ke ditaruh ke instrumen keuangan ataupun instrumen perbankan di syariah maupun Pegadaian,” kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Menurutnya pergeseran sebagian kepemilikan emas ke instrumen keuangan akan memberi dampak signifikan bagi likuiditas dan penyaluran pembiayaan di sektor riil. Airlangga kemudian membandingkan kepemilikan emas masyarakat Indonesia dengan stok emas negara lain, menyebut Amerika Serikat memiliki sekitar 8.133 ton dan China 2.331 ton. “Karena India 880 ton dan Singapura tentu punya juga relatif lebih rendah dari itu,” kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Di sisi lain, ia mencatat stok emas yang dimiliki Bank Indonesia masih relatif rendah, yakni sekitar 70 ton. Besarnya emas yang tersimpan di masyarakat menjadi salah satu alasan pengembangan ekosistem bullion di dalam negeri. “Nah pemerintah terus mendorong kebijakan hilirisasi, kemudian Bapak Presiden kemarin juga menyampaikan dalam pidatonya terkait dengan bullion bank, sehingga bullion ini menjadi sesuatu yang diandalkan ke depan, terutama untuk meningkatkan nilai tambah daripada hilirisasi di sektor mine and energy,” kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Pernyataan Airlangga disampaikan saat peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di BSI Tower, Jakarta, Kamis 20 Agustus 2026. Jika sekitar 20 persen dari potensi 252 miliar Dolar AS itu dialihkan ke instrumen keuangan, pemerintah menilai efek penguatan pembiayaan dan investasi akan terasa pada perekonomian domestik. Upaya pengembangan bullion dan peran institusi seperti Pegadaian serta BSI diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan dan energi serta memperluas akses instrumen investasi berbasis emas bagi masyarakat.





