El Nino dan B50 Mendorong Harga CPO ke Rekor Tertinggi

Jakarta, Maret.id — Kinerja harga minyak sawit mentah (CPO) menunjukkan lonjakan hampir 6,54 persen di Bursa Malaysia Derivatives sepanjang pekan ini, mencatat kenaikan mingguan tertinggi dalam 24 pekan terakhir.
Di akhir pekan, kontrak berjangka CPO tercatat naik 1,15 persen dan menutup pada posisi 5.018 ringgit Malaysia per ton.
Pencapaian tersebut memperpanjang tren penguatan mingguan menjadi tiga pekan berturut-turut dan mendorong harga ke level tertinggi sejak Desember 2024.
Data pasar pada Sabtu, 22 Agustus 2026 menunjukkan reli harga ini mendapat dukungan dari tren positif harga minyak nabati di Bursa Dalian.
Sentimen domestik juga kuat karena permintaan dalam negeri Indonesia diperkirakan meningkat menjelang implementasi penuh program biodiesel B50 yang dijadwalkan bergulir pada Oktober 2026.
Ancaman fenomena El Niño menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi cuaca kering yang dapat memangkas produksi sawit baik di Indonesia maupun Malaysia.
Namun, ruang penguatan harga CPO masih dibayangi sejumlah tantangan terkait pasokan dan alternatif permintaan.
Pasokan minyak sawit Malaysia pada Juli 2026 tercatat menumpuk hingga mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Di sisi permintaan global, kilang minyak nabati di India berpotensi beralih ke minyak kedelai yang harganya lebih murah, dan impor kedelai India diperkirakan dapat mencapai rekor pada Agustus 2026.
Kelesuan daya serap pasar juga tercermin dari melemahnya momentum ekspor minyak sawit Malaysia baru-baru ini.
Survei kargo Intertek Testing Services mencatat penurunan pengiriman minyak sawit Malaysia sebesar 13,2 persen pada periode 1–20 Agustus dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.
Sejalan dengan data tersebut, AmSpec Agri Malaysia menaksir adanya penurunan ekspor sekitar 5,5 persen.
Meski volume ekspor mengalami pelemahan, prospek harga CPO Malaysia diperkirakan tetap kokoh di atas 4.600 ringgit Malaysia per ton menjelang September 2026.





