Sampah Plastik Kabin Pesawat Didorong Masuk Rantai Ekonomi

Jakarta, Maret.id — Pesawat setelah mendarat masih meninggalkan berbagai jenis sampah di dalam kabin, termasuk kemasan plastik yang digunakan penumpang selama penerbangan.
Jika tidak dikelola, material tersebut berisiko berakhir sebagai limbah yang tidak bernilai.
Melalui pemilahan dan pengumpulan yang tepat, sebagian sampah plastik pascakonsumsi dapat kembali masuk ke rantai ekonomi.
Peluang tersebut kini digarap bersama oleh Aqua dan maskapai Citilink melalui inisiatif bertajuk Semangat Gerak.
Sampah plastik pascakonsumsi dari aktivitas penerbangan akan dipilah dan disalurkan ke ekosistem daur ulang untuk diolah menjadi material yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
Bali dipilih sebagai salah satu wilayah percontohan untuk penerapan skema tersebut.
Skema ini menempatkan pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi yang melibatkan proses pengumpulan, pemilahan, pengolahan hingga pemanfaatan kembali material.
CEO Danone Indonesia Laurent Boissier mengatakan pengelolaan sampah plastik membutuhkan keterlibatan pelaku usaha, mitra pengelola sampah, dan komunitas lokal.
“Di Aqua, kami percaya bahwa mobilitas dan keberlanjutan dapat berjalan berdampingan, melalui Semangat Gerak kami ingin menunjukkan bahwa kolaborasi lintas industri dapat menghadirkan solusi yang lebih konkret dalam mendorong ekonomi sirkular,” ujar Laurent Boissier, CEO Danone Indonesia.
“P inisiatif ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat pengumpulan dan pengelolaan sampah plastik pascakonsumsi dengan melibatkan mitra dan komunitas lokal,” ujar Laurent Boissier, CEO Danone Indonesia.
Pernyataan itu dikutip di Jakarta, Senin 24 Agustus 2026.
Bagi pelaku ekonomi di sektor pengelolaan sampah, skema tersebut berpotensi memperluas sumber bahan baku sekaligus memperkuat rantai pengumpulan dan daur ulang.
Aqua mencatat telah menjalankan pengumpulan dan daur ulang kemasan pascakonsumsi sejak 1993 dan memperluas gerakan melalui kampanye #BijakBerplastik pada 2018.
Saat ini ekosistem yang dikembangkan melibatkan bank sampah induk, Recycling Business Unit (RBU), collection center, TPST, hingga TPS3R.
Bersama mitra, Aqua mengumpulkan lebih dari 51.000 ton sampah plastik setiap tahun untuk didaur ulang menjadi material bernilai ekonomi, termasuk bahan baku kemasan produk baru sesuai standar dan ketentuan yang berlaku.
Di Bali, pengembangan ekosistem melibatkan komunitas dan pelaku lokal melalui model bisnis isi ulang di kawasan Sanur, penyediaan tempat sampah terpilah atau dropbox, serta pemasangan Reverse Vending Machine (RVM) untuk meningkatkan pengumpulan kemasan plastik pascakonsumsi.
Direktur Utama Citilink Darsito Hendroseputro menyatakan pengelolaan sampah dari aktivitas penerbangan menjadi bagian dari upaya perusahaan mengurangi dampak lingkungan operasional.
“Langkah ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam mendukung terciptanya ekosistem yang lebih baik bagi masyarakat dan lingkungan, melalui kolaborasi dengan Aqua kami ingin menghadirkan layanan penerbangan yang tidak hanya memberikan kenyamanan tetapi juga dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan,” ujar Darsito Hendroseputro, Direktur Utama Citilink.
Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana sampah plastik dari aktivitas penerbangan dapat ditempatkan dalam rantai ekonomi yang lebih panjang.
Ketika dikumpulkan dan dipilah dengan baik, material tersebut dapat menjadi sumber bahan baku sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi para pelaku di sektor pengelolaan dan daur ulang sampah.
Dengan pendekatan ini, pengelolaan sampah dari aktivitas penerbangan tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga membuka ruang bagi penguatan usaha dan pemberdayaan masyarakat dalam ekosistem daur ulang.





