Ekonomi

Rupiah Melemah Dipicu Sanksi Baru AS ke Iran

Jakarta, Maret.id — Nilai tukar Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026.

Berdasarkan data pasar, Rupiah melemah 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.721 per Dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan turut dipengaruhi sentimen eksternal, khususnya meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Indeks Dolar menguat setelah AS akan mengumumkan rangkaian sanksi paling keras yang pernah ada terhadap Iran, Menteri Keuangan Scott Bessent, dalam sebuah artikel opini menyebut bahwa ‘D-Day ekonomi’ akan segera tiba bagi Iran,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.

Bessent diperkirakan memaparkan sanksi baru tersebut dalam konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaee memperingatkan konsekuensi terhadap pasokan energi jika tekanan ekonomi berlanjut.

“Tidak akan ada minyak yang diekspor melalui Selat Hormuz maupun wilayah Teluk Persia jika perang ekonomi terus berlanjut,” ujar Mohsen Rezaee, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran.

Selain faktor eksternal, Ibrahim mencatat pelemahan Rupiah juga dipicu pelebaran defisit transaksi berjalan.

“Pasar merespon negatif setelah defisit transaksi berjalan Indonesia melebar signifikan pada triwulan II 2026 menjadi 12,5 miliar Dolar AS atau 3,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB),” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan defisit transaksi berjalan pada triwulan I 2026 yang tercatat sebesar 3,6 miliar Dolar AS atau 1 persen terhadap PDB.

“Pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang diperkirakan bersifat temporer. Salah satunya adalah kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia,” ujar Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.

Meski demikian, Ibrahim menilai kinerja Neraca Pembayaran Indonesia secara keseluruhan masih terjaga pada triwulan II 2026.

Pada periode itu Neraca Pembayaran Indonesia mencatat defisit 900 juta Dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan defisit 9,1 miliar Dolar AS pada triwulan I 2026.

“Selain itu, pelemahan ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara AS, Israel dan Iran, serta konflik Rusia-Ukraina di Eropa Timur, juga menjadi perhatian pasar,” tutur Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas.

Ibrahim memprediksi Rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di rentang Rp17.720-17.770 per Dolar AS.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button