Dolar AS Melejit ke 99, Tekan Rupiah

Jakarta, Maret.id — Dolar AS menguat pada pembukaan perdagangan pagi ini setelah mencatat reli tajam pada penutupan pekan lalu, dengan indeks DXY melonjak sekitar 0,32 persen ke level 99,27 dan membukukan kenaikan mingguan lebih dari 1 persen. Sentimen pasar yang memburuk terhadap risiko inflasi dan pergeseran ekspektasi kebijakan moneter memicu aliran modal ke aset safe haven, memperkuat posisi mata uang Negeri Paman Sam.
Sentimen global berubah cepat setelah data dan perkembangan geopolitik terbaru, mendorong investor mereposisi portofolio mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman. Hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga naik, mencerminkan kenaikan imbal hasil yang menambah daya tarik dolar.
Lonjakan Harga Minyak dan Risiko Pasokan
Gangguan di kawasan Teluk karena meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah, yang langsung berdampak pada ekspektasi inflasi global. Data April menunjukkan percepatan inflasi grosir (PPI) AS tercepat sejak 2022 serta inflasi konsumen (CPI) yang tercatat paling tinggi sejak 2023, sementara imbal hasil US Treasury 10-tahun menyentuh sekitar 4,599 persen, level tertinggi dalam setahun.
Hilangnya pasokan minyak dari jalur logistik penting menambah tekanan pada rantai pasokan dan biaya energi, sehingga mendorong kekhawatiran bahwa preseden kenaikan harga akan meluas ke sektor lain. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk menilai ulang proyeksi inflasi dan kebijakan moneter dalam beberapa kuartal mendatang.
Perubahan Ekspektasi Kebijakan The Fed
Kekuatan permintaan domestik AS terbukti tetap solid meskipun terdapat tanda-tanda perlambatan moderat pada penjualan ritel, sehingga memperkecil peluang pemangkasan suku bunga tahun ini. Gabungan data inflasi yang memanas dan fundamental ekonomi yang tangguh membuat pasar kini hampir sepenuhnya menghapus kemungkinan rate cut, dan beberapa pelaku pasar bahkan mempersiapkan skenario kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Perubahan tajam dalam kurva probabilitas suku bunga ini tercermin pada kontrak suku bunga berjangka dan harga aset berisiko, yang mengalami volatilitas lebih tinggi. Investor kini mengamati rapat-rapat Federal Reserve mendatang dan rilis data ekonomi sebagai titik-titik penentu bagi arah pasar ke depan.
Ketegangan AS-China dan Peran Safe Haven
Selain faktor Timur Tengah, meningkatnya ketegangan strategis antara AS dan China turut mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset pelindung nilai. Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping belakangan ini belum menghasilkan langkah-langkah konkret untuk meredakan ketegangan, sementara pernyataan terkait isu Taiwan dianggap menambah risiko geopolitik.
Skenario konfrontasi potensial di kawasan Asia-Pasifik membuat pelaku pasar global memilih pengamanan aset, sehingga mata uang negara maju seperti euro, yen, dan poundsterling menekan nilai tukar mereka terhadap dolar. Kombinasi faktor geopolitik dan fundamental ekonomi internasional memperbesar volatilitas pasar valuta asing.
Dampak pada Mata Uang dan Prospek Pasar
Penguatan dolar pekan lalu menekan mayoritas mata uang utama dunia; euro, yen Jepang, dan poundsterling melemah secara serentak, dengan pound tercatat mengalami penurunan mingguan paling dalam sejak November 2024. Kondisi tersebut menimbulkan tekanan pada pasar komoditas dan negara-negara yang terpapar aliran modal keluar serta menuntut langkah responsif dari bank sentral regional.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau rapat The Fed, data inflasi AS bulan berikutnya, serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Asia untuk menilai apakah tren penguatan dolar berlanjut atau terjadi aksi ambil untung yang memicu koreksi. Para investor disarankan menjaga kewaspadaan pada data ekonomi mendatang dan dinamika politik internasional yang berpotensi mengubah arah pasar secara cepat.





