Melejit ke US$110, Harga BBM Diprediksi Naik

Jakarta, Maret.id — Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan terakhir seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Teluk yang memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.
Data perdagangan menunjukkan patokan internasional mengalami kenaikan signifikan pada sesi tersebut.
Brent, acuan harga minyak internasional, tercatat naik 1,27 persen ke level 110,65 Dolar AS per barel.
Sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak 1,75 persen ke 107,26 Dolar AS per barel.
Pemicu Kenaikan: Ketegangan di Selat Hormuz
Kenaikan harga didorong oleh meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran seputar akses dan pengamanan Selat Hormuz.
Selat tersebut menjadi jalur krusial karena melintasi hampir 20 persen pasokan minyak dan gas dunia sehingga setiap gangguan memberi tekanan langsung pada harga.
Pernyataan Publik dan Reaksi Pasar
Unggahan dari mantan Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social menambah sentimen ketidakpastian pasar ketika ia memperingatkan Iran bahwa “waktu terus berjalan” dan meminta tindakan cepat dari Teheran.
Pernyataan publik tersebut memicu kekhawatiran investor atas potensi eskalasi militer yang dapat mengganggu arus energi global.
Situasi Lapangan dan Gencatan Senjata Rapuh
Meskipun sempat tercapai gencatan senjata yang rapuh pada bulan April, kondisi di lapangan belum sepenuhnya stabil dan sejumlah jalur di Selat Hormuz dilaporkan masih mengalami pembatasan.
Skenario tersebut diperparah oleh kebijakan yang sebelumnya menutup akses ke beberapa pelabuhan, sehingga pasar menilai risiko suplai masih tinggi.
Dampak pada Cadangan dan Proyeksi Stok
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa stok minyak global menyusut dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat gangguan berkepanjangan di jalur pelayaran utama.
Sementara itu, analis dari bank UBS memperkirakan persediaan minyak dunia berpotensi mendekati titik terendah sepanjang sejarah, yakni sekitar 7,6 miliar barel jika permintaan tetap kuat hingga akhir Mei.
Pasar kini mencermati keseimbangan antara pasokan dan permintaan yang semakin tipis, yang berpotensi mendorong lonjakan harga lebih tinggi dalam jangka pendek.
Investor dan pelaku industri energi juga memperhatikan perkembangan diplomasi yang dapat meredakan atau memperburuk situasi di Teluk.
Pemerintah Indonesia, di bawah Presiden Prabowo Subianto, dinyatakan terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan potensi dampaknya terhadap stabilitas energi dan ekonomi domestik.
Otoritas terkait diminta untuk menyiapkan langkah-langkah antisipatif guna meredam dampak gejolak harga pada konsumen dan sektor industri.
Para pengamat pasar menilai volatilitas akan tetap tinggi sampai ada kepastian terkait pembukaan kembali jalur pelayaran utama dan penurunan ketegangan politik.
Dalam kondisi seperti ini, strategi cadangan dan koordinasi internasional menjadi faktor krusial untuk menahan tekanan harga di pasar global.





