IHSG Ambles 1,9%, Rupiah Melemah ke Rp17.668

Jakarta, Maret.id — Rupiah tercatat menutup perdagangan Senin dengan penurunan 0,40 persen ke level Rp17.668 per Dolar AS, yang menandai penutupan terlemah sepanjang sejarah bagi mata uang Garuda. Pernyataan tersebut mencerminkan tekanan yang kuat di pasar valuta asing pada akhir sesi perdagangan.
Rupiah Tembus Rekor Terlemah
Pergerakan Rupiah pada penutupan tersebut menurut data pasar mencatatkan tekanan yang meluas dari sisi eksternal maupun domestik. Pelemahan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek.
Faktor Pemicu Penguatan Dolar
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan penguatan Dolar AS dipicu oleh meningkatnya risiko inflasi global yang berasal dari lonjakan harga minyak dunia. “Prospek kebijakan moneter yang tetap ketat dari Federal Reserve semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi memperlambat kemajuan disinflasi dan mendorong inflasi menjauh dari target dua persen,” ujar Ibrahim.
Pengaruh Geopolitik terhadap Sentimen
Ibrahim juga menyoroti ketidakpastian geopolitik sebagai faktor yang memperburuk sentimen pasar setelah upaya meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran melalui pendekatan ke Israel disebut mengalami kebuntuan. Kondisi ini meningkatkan permintaan aset aman dan memperkuat Dolar terhadap mata uang berisiko termasuk Rupiah.
Pernyataan Presiden dan Reaksi Pasar
Selain faktor global, pasar domestik tampak tersentak oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menilai sebagian besar masyarakat di daerah tidak menggunakan Dolar AS dalam aktivitas sehari-hari sehingga dampaknya tidak terlalu terasa. Pernyataan itu menuai kritik dari pengamat yang menilai pandangan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan, mengingat meratanya akses informasi dan perkembangan transaksi lintas wilayah.
Kritik pada Penyusunan Pidato
Ibrahim menyarankan agar jajaran di sekitar Presiden, khususnya Sekretariat Kabinet, melakukan evaluasi terhadap penyusunan pidato kepala negara agar komunikasi publik bisa lebih akurat dan tidak memicu reaksi pasar yang berlebihan. “Ini merupakan koreksi yang harus dilakukan oleh Sekretariat Kabinet untuk melakukan pembenahan agar ke depan tidak terjadi lagi,” tegasnya.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Secara teknis, Ibrahim memproyeksikan Rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.680 hingga Rp17.750 pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Proyeksi ini mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap volatilitas yang masih terbuka akibat kombinasi faktor global dan domestik.
Dampak pada Pasar Modal
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menutup di zona merah dengan pelemahan 1,85 persen atau turun 124,08 poin ke level 6.599,24 pada sesi penutupan. Nilai transaksi harian mencapai sekitar Rp20,47 triliun dengan volume perdagangan mencapai puluhan miliar saham, menunjukkan aktivitas jual yang cukup tinggi.
Pergerakan IHSG sempat lebih volatil pada sesi pertama ketika indeks anjlok lebih dari 4 persen sebelum perlahan memangkas pelemahan. Kapitalisasi pasar terpangkas dan jumlah saham yang melemah jauh melebihi jumlah saham yang menguat, yang menandakan tekanan luas di pasar saham domestik.
Sektor Paling Tertekan
Sejumlah sektor mengalami tekanan tajam pada perdagangan hari ini dengan sektor bahan baku menjadi yang paling tertekan, diikuti oleh utilitas dan kesehatan. Tekanan sektor bahan baku dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas tertentu dan koreksi harga saham emiten terkait.
Implikasi dan Harapan Pasar
Kondisi saat ini mendorong pelaku pasar untuk mengamati langkah-langkah kebijakan yang mungkin diambil oleh otoritas moneter dan fiskal, termasuk respons dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Sementara itu, investor menunggu data ekonomi berikutnya dan perkembangan geopolitik yang dapat mempengaruhi arah sentimen pasar global.
Akhirnya, kombinasi faktor global, dinamika politik domestik, dan reaksi pelaku pasar menempatkan tekanan signifikan pada mata uang dan pasar modal Indonesia dalam jangka pendek. Pemangku kebijakan dan pelaku pasar diperkirakan akan tetap waspada terhadap perkembangan selanjutnya agar volatilitas dapat dikelola dengan lebih baik.





