Ekonomi

IHSG Ambles, Rupiah Melemah: Tekanan Likuiditas Pasar

Jakarta, Maret.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 1,85 persen ke posisi 6.599,24 pada penutupan sesi perdagangan Senin, setelah sempat anjlok lebih dari 4 persen dengan rentang pergerakan antara 6.398,79 hingga 6.631,28. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan tekanan pada nilai tukar Rupiah yang menutup hari pada Rp17.668 per Dolar AS, atau catatan penutupan terlemah dalam sejarah pasar.

Tekanan Pasar dan Pelemahan Rupiah

Ekonom dan pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai korelasi antara penurunan IHSG dan pelemahan Rupiah semakin kentara. Dia menyatakan bahwa pelemahan dua indikator utama ini memunculkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal dan arah kebijakan ekonomi domestik.

Achmad menunjuk pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan pelemahan kurs tidak akan berdampak pada warga desa karena tidak menggunakan Dolar, sebagai salah satu pemicu sentimen pasar pada awal pekan. Menurutnya, pernyataan itu memicu pertanyaan publik dan investor terkait sensitivitas kebijakan terhadap fluktuasi nilai tukar.

Pesan dari Pasar kepada Pemerintah

“Kombinasi jatuhnya indeks saham dan melemahnya Rupiah adalah sinyal bahwa pasar tidak hanya sedang merespons volatilitas global, tetapi juga sedang menguji kekuatan fondasi ekonomi domestik,” ujar Achmad. Ia menekankan bahwa koreksi pasar sebenarnya wajar, namun situasi berubah ketika penurunan saham diikuti oleh tekanan pada mata uang, keluarnya dana asing, dan sorotan dari lembaga pemeringkat internasional.

Achmad mengingatkan bahwa ketika koreksi pasar berubah menjadi pesan politik ekonomi, inti pesannya adalah keraguan investor terhadap kredibilitas, disiplin, dan konsistensi arah kebijakan ekonomi pemerintah. Menurutnya, pasar sedang mempertanyakan apakah kebijakan anggaran dan pembiayaan dapat dipertanggungjawabkan dalam jangka menengah hingga panjang.

Kekhawatiran terhadap Pembiayaan Agenda Besar

Ekonom itu menyoroti sejumlah agenda besar pemerintahan Presiden Prabowo yang memerlukan alokasi anggaran besar, termasuk program makan bergizi gratis, subsidi energi, program ketahanan pangan, serta penguatan pertahanan. Ia menyatakan bahwa pasar menilai setiap rencana belanja besar harus disertai peta pembiayaan yang jelas agar tidak menimbulkan risiko fiskal berlebih.

Achmad menegaskan bahwa pertanyaan utama investor adalah dari mana dana untuk program-program tersebut berasal, seberapa besar dampaknya terhadap defisit anggaran, dan apakah porsi utang akan meningkat. Ketidakjelasan dalam peta pembiayaan dan perluasan prioritas fiskal tanpa komunikasi yang konsisten dinilai memperburuk sentimen pasar.

Dampak ke Sektor Riil dan Ekspektasi Inflasi

Menurut Achmad, pelemahan Rupiah bukan sekadar angka di layar transaksi, melainkan berdampak pada struktur biaya perusahaan dan harga input produksi seperti energi, pupuk, dan bahan baku. Tekanan nilai tukar membuat biaya impor lebih mahal, yang pada gilirannya meningkatkan risiko inflasi dan menambah beban pembayaran utang berdenominasi asing.

Ia memperingatkan bahwa kombinasi melemahnya mata uang dan penurunan indeks saham berpotensi menekan investasi, mempersulit pembiayaan korporasi, serta mendorong keluarnya modal asing jika kepercayaan tidak cepat dipulihkan. Kondisi ini bisa memperpanjang periode volatilitas dan menimbulkan dampak menahun apabila tidak direspon dengan kebijakan yang meyakinkan.

Peran Faktor Global dan Domestik

Achmad mengakui bahwa faktor global seperti menguatnya Dolar AS, kenaikan harga energi, dan meningkatnya risiko geopolitik menjadi pemicu tekanan pada pasar negara berkembang. Namun, ia menegaskan bahwa faktor domestik—termasuk persepsi terhadap pengelolaan fiskal, independensi kebijakan moneter, dan komunikasi pemerintah—menentukan seberapa dalam efek itu terasa di pasar lokal.

Ia menyarankan agar otoritas ekonomi menajamkan koordinasi kebijakan dan menghadirkan peta fiskal yang transparan untuk meredam kekhawatiran investor. Komunikasi yang jelas dan langkah-langkah konkret terkait pembiayaan program-program besar dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan dan menstabilkan pasar dalam jangka pendek.

Penutupan sesi perdagangan yang bergejolak pada hari Senin mencerminkan kombinasi risiko eksternal dan kerapuhan persepsi domestik. Pasar saat ini menuntut kepastian kebijakan agar volatilitas tidak berlanjut dan potensi dampak terhadap perekonomian nyata dapat diminimalkan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button