Ekonomi

Magang Pengurus Kopdes Perkuat Ekonomi Desa dan Pasar Lokal

Jakarta, Maret.id — Kementerian Koperasi menyelesaikan program magang bagi pengurus Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang berlangsung selama delapan hari di Lamongan, Jawa Timur.

Kegiatan magang dirancang untuk mengonsolidasikan potensi ekonomi desa melalui penguatan kapasitas pengurus koperasi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

Seluruh rangkaian penutupan magang diselenggarakan di Lamongan pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026.

Para peserta magang memperoleh pembelajaran langsung melalui praktik di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Sunan Drajat, Lamongan.

“Para peserta membawa bekal pembelajaran nyata mengenai pengelolaan koperasi yang profesional, produktif, dan berkelanjutan untuk diterapkan di daerah masing-masing,” ujar Destry Anna Sari, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop.

Penutupan program magang juga serentak dilaksanakan di Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

“Keberhasilan kegiatan magang tidak hanya diukur dari kehadiran selama kegiatan berlangsung, melainkan dari langkah nyata yang lahir setelah peserta kembali ke daerah,” ujar Destry Anna Sari, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop.

Pengetahuan, pengalaman, dan jejaring kerja yang diperoleh selama magang menjadi modal utama bagi pengurus untuk memperkuat tata kelola dan kemampuan usaha koperasi.

“Kolaborasi antara koperasi, Pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendukung turut membuka peluang yang lebih luas bagi kemajuan KDKMP di seluruh Indonesia,” ujar Destry Anna Sari, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop.

Destry menegaskan bahwa penguatan KDKMP harus dimulai dari pengurus yang kompeten, adaptif, dan memiliki semangat kewirausahaan agar koperasi dapat menjadi ujung tombak ekonomi desa.

Peserta magang berjumlah 54 orang berasal dari 31 provinsi yang telah memiliki sertifikat pelatihan perkoperasian melalui LMS atau pelatihan dasar perkoperasian lainnya, dengan prioritas pada koperasi yang telah memiliki gedung dan operasional berjalan.

“Metodologi dan materi pelaksanaan magang: pendekatan dua skema yaitu pembekalan materi dan studi kunjungan (study visit) serta praktik langsung (on the job training),” ujar Destry Anna Sari, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop.

Materi pembelajaran meliputi regulasi, strategi kebijakan, prinsip tata kelola koperasi yang baik, koordinasi internal, transformasi jiwa kewirausahaan dan kepemimpinan, serta identifikasi potensi dan inovasi usaha.

Program juga mengajarkan kolaborasi, inkubasi usaha, pengembangan circular business, pengelolaan keuangan dan strategi pembiayaan, teknik penyusunan proposal bisnis, serta metode evaluasi dan mitigasi risiko melalui studi kunjungan dan praktik unit usaha koperasi.

“Kegiatan magang ini telah berakhir, namun perjalanan memajukan KDKMP baru saja dimulai. Terapkan pengalaman yang diperoleh, hadirkan inovasi, dan bangun koperasi yang kuat, modern, serta bermanfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Destry Anna Sari, Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop.

Mewakili Kepala Dinas dan Usaha Mikro Kabupaten Lamongan, Kepala Bidang Perkoperasian Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Lamongan Yusup Efendi menyatakan bahwa Lamongan menjadi daerah dengan jumlah KDKMP terbanyak secara fisik di Indonesia, yaitu 317 unit.

“Dari jumlah tersebut, tahap pertama sebanyak 90 unit telah mulai beroperasi,” ujar Yusup Efendi, Kepala Bidang Perkoperasian, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Lamongan.

“Terutama terkait kesiapan pengurus dalam menjalankan operasional koperasi,” ujar Yusup Efendi, Kepala Bidang Perkoperasian, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Lamongan.

“Pada masa peluncuran awal, salah satu KDKMP di Lamongan mencatatkan omzet hingga Rp14 juta dalam satu hari penjualan,” ujar Yusup Efendi, Kepala Bidang Perkoperasian, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Lamongan.

“Barang yang paling banyak diburu masyarakat adalah kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan elpiji,” ujar Yusup Efendi, Kepala Bidang Perkoperasian, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Lamongan.

“Ini membuktikan bahwa jika jalur logistik terjamin dan pengelolaan berjalan baik, keberadaan KDKMP akan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Insya Allah kendala yang ada saat ini akan teratasi seiring berjalannya waktu dan semakin matangnya pengelolaan di tingkat desa,” ujar Yusup Efendi, Kepala Bidang Perkoperasian, Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Lamongan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button