Harga Emas Ambles, Permintaan Investasi Melemah

Jakarta, Maret.id — Harga emas turun tajam dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, dengan harga emas spot anjlok 1,4 persen ke posisi 4.503,98 Dolar AS per ons dan kontrak emas berjangka AS untuk Juni ditutup melemah 1 persen di 4.511,20 Dolar AS per ons.
Faktor Penguat Dolar dan Imbal Hasil
Penguatan DXY mencerminkan aliran modal ke aset-aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman oleh investor.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS meningkatkan biaya kesempatan memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga menekan permintaan logam mulia tersebut.
Kenaikan Harga Minyak dan Kekhawatiran Inflasi Energi
Lonjakan harga minyak mentah Brent memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi di sektor energi global yang mendorong ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin realistis bahwa bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, cenderung mempertahankan tingkat suku bunga tinggi sepanjang 2026 atau berpotensi menaikkannya kembali pada akhir tahun.
Dampak pada Pasar Komoditas Logam Mulia
Koreksi pada emas juga terseret ke logam mulia lainnya di pasar spot, dengan perak merosot 4,1 persen ke 74,53 Dolar AS per ons.
Platinum turun 2,2 persen dan paladium anjlok 4,2 persen, menunjukkan korelasi kuat antarlogam terhadap tekanan likuiditas dan risiko makroekonomi global.
Respons Pelaku Pasar dan Sentimen Jangka Pendek
Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil menantikan rilis risalah rapat kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan pada Rabu malam untuk mencari petunjuk arah suku bunga berikutnya.
Sentimen jangka pendek tetap rentan terhadap data ekonomi AS, pergerakan dolar, serta dinamika harga minyak yang dapat mengubah ekspektasi inflasi.
Proyeksi Jangka Panjang dan Pandangan Analis
Meskipun menghadapi tantangan makro jangka pendek, sejumlah analis menilai tren jangka panjang emas relatif solid terutama bila bank-bank sentral kembali memburu aset safe-haven seperti emas usai tekanan inflasi energi mereda.
JP Morgan bahkan memproyeksikan harga platinum dapat melesat ke kisaran 2.400 Dolar AS per ons pada kuartal keempat 2026 dan paladium menuju sekitar 1.600 Dolar AS per ons, menandakan optimisme terhadap permintaan industri jangka menengah hingga panjang.
Pasar kini memasuki fase selektif di mana volatilitas harga komoditas dapat memicu aksi jual cepat namun juga membuka peluang pembelian strategis bagi investor jangka panjang.
Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi utama, keputusan Federal Reserve, serta dinamika pasokan dan permintaan minyak yang menjadi faktor penentu ekspektasi inflasi dan suku bunga global.





