Rupiah Ambles, Restrukturisasi Tekan Risiko Sistemik

Jakarta, Maret.id — Pengamat ekonomi Deni menilai depresiasi Rupiah saat ini seharusnya dibaca sebagai bagian dari restrukturisasi ekonomi bukan sekadar indikator kelemahan ekonomi.
Pandangan tentang Depresiasi Rupiah
Deni mengatakan bahwa pelemahan nilai tukar tidak otomatis mencerminkan krisis makroekonomi, melainkan peluang penyesuaian terhadap kondisi global dan domestik.
Pengaruh Kebijakan Moneter Global
Dalam penjelasannya, Deni menyoroti peran kebijakan moneter Amerika Serikat terhadap dinamika Dolar AS dan nilai tukar Rupiah.
Ia memperkirakan jika Gubernur Bank Sentral AS yang baru mengikuti arahan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan suku bunga, maka Dolar AS berpotensi melemah sehingga memberikan ruang stabilisasi bagi Rupiah di medium hingga panjang.
Implikasi Jangka Menengah
Deni mengingatkan bahwa efek positif dari restrukturisasi tidak instan dan memerlukan kebijakan pendukung yang tepat dari pemerintah dan otoritas fiskal.
“Setelah fase penyesuaian, kita bisa berharap Rupiah menjadi lebih stabil terhadap Dolar AS,” kata Deni.
Kondisi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026
Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, angka yang menurut Deni memberi sinyal stabilitas relatif.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angka agregat itu menyamarkan kerentanan mendasar yang masih perlu diatasi.
Kerentanan Fondasi Pertumbuhan
Deni menilai fondasi pertumbuhan masih rapuh karena didorong terutama oleh konsumsi pemerintah dan sektor hospitality, bukan oleh peningkatan produktivitas investasi.
Jika transformasi struktural tidak segera terlihat, menurutnya Indonesia berisiko terjebak dalam perangkap negara berpendapatan menengah atau middle income trap.
Konsumsi Pemerintah dan Efisiensi Investasi
Lonjakan konsumsi pemerintah tercatat sebesar 21,81 persen, namun efisiensi investasi masih rendah yang tercermin dari tingginya ICOR atau Incremental Capital Output Ratio.
“Banyak infrastruktur dibangun, tetapi output yang dihasilkan belum sebanding dengan input, sehingga produktivitas jangka panjang belum optimal,” jelasnya.
Rekomendasi Kebijakan Fiskal
Deni merekomendasikan pengalihan sebagian belanja fiskal ke penguatan kualitas sumber daya manusia melalui program nutrisi, pendidikan, dan vokasi.
Langkah ini menurutnya penting agar investasi menghasilkan tenaga kerja yang lebih produktif dan meningkatkan daya saing berkelanjutan.
Sektor Hospitality dan Nilai Tambah
Sektor akomodasi dan makanan-minuman tumbuh sekitar 13,14 persen akibat rebound pariwisata dan konsumsi domestik, namun Deni menilai nilai tambah sektor ini masih rendah.
Dia mengingatkan bahwa pertumbuhan berbasis hospitality yang tidak disertai diversifikasi ke sektor bernilai tambah tinggi hanya memberi ilusi stabilitas ekonomi.
Ketimpangan Wilayah dan Risiko Sosial
Deni juga menyoroti dominasi Pulau Jawa yang menyumbang 57,24 persen terhadap PDB nasional, menunjukkan ketimpangan wilayah yang masih tinggi.
Ketimpangan tersebut berpotensi memperlebar jurang sosial-ekonomi dan memicu ketidakstabilan politik jika pertumbuhan tidak diarahkan secara inklusif.
Dampak Harga Energi dan Saran Diversifikasi
Ia memperkirakan harga minyak dunia akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang cukup lama sehingga dapat menaikkan biaya produksi dan menekan fiskal negara.
“Indonesia harus mempercepat diversifikasi energi dengan memanfaatkan gas domestik dan memperluas pemanfaatan energi terbarukan agar ketergantungan impor minyak dapat dikurangi,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, Deni menegaskan bahwa depresiasi Rupiah dapat menjadi momentum transformasi jika dibarengi kebijakan fiskal yang cermat, peningkatan efisiensi investasi, dan upaya nyata dalam pengembangan sumber daya manusia serta diversifikasi ekonomi.





