Ekonomi

IHSG Melejit, Rupiah Tertekan: Harga Impor Naik

Jakarta, Maret.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan pada sesi pagi dengan rentang perdagangan antara 6.353 hingga 6.378, sementara volume transaksi menunjukkan aktivitas pasar yang relatif tinggi. Data pasar mencatat sekitar 1,05 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp631,94 miliar dari 70.298 kali transaksi.

Pergerakan Saham dan Sentimen Pasar

Sebanyak 344 saham terpantau menguat, 107 saham melemah, dan 186 saham stagnan selama sesi pagi ini. Penguatan indeks didorong oleh beberapa sektor utama yang mendapat minat beli investor domestik meski sentimen global masih bergejolak.

Volume dan Nilai Transaksi

Kenaikan jumlah saham yang diperdagangkan menunjukkan likuiditas pasar yang tetap terjaga di tengah ketidakpastian eksternal. Nilai transaksi Rp631,94 miliar merefleksikan aktivitas perdagangan yang didominasi oleh saham-saham lapis besar dan beberapa saham sektoral yang bergerak signifikan.

Tekanan pada Nilai Tukar Rupiah

Di tengah penguatan IHSG, nilai tukar rupiah justru tertekan dan melemah tipis 0,03 persen ke level sekitar Rp17.658 per Dolar AS menurut pantauan Bloomberg. Pelemahan rupiah muncul sementara pasar menelaah dampak kebijakan moneter domestik dan perkembangan geopolitik internasional.

Kebijakan Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) pada Mei 2026 memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Selain BI-Rate, BI juga menaikkan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility) sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen dan suku bunga pinjaman (lending facility) menjadi 6 persen.

Alasan dan Penjelasan Gubernur BI

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan kenaikan suku bunga tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Menurut Perry, langkah ini juga bersifat pre-emptive untuk menjaga laju inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran pemerintah yaitu 2,5±1 persen.

Dampak Kebijakan terhadap Pasar

Kebijakan pengetatan moneter cenderung memberikan sinyal hawkish kepada pasar yang bisa memperkuat rupiah dalam jangka menengah, namun pada awalnya dapat menekan sentimen risiko sehingga berdampak pada pergerakan saham berisiko tinggi. Pelaku pasar akan memantau tindak lanjut kebijakan BI serta data ekonomi domestik dan eksternal untuk menilai arah arus modal.

Respons Investor dan Prospek Ke depan

Investor lokal dan asing diperkirakan akan menimbang ulang portofolio mereka berdasarkan prospek suku bunga, inflasi, dan perkembangan geopolitik global. Sentimen jangka pendek kemungkinan tetap volatil, namun stabilitas makroekonomi menjadi faktor utama yang dinantikan pasar untuk mengembalikan momentum pertumbuhan indeks.

Penutupan perdagangan hari ini akan menjadi barometer lebih lanjut terkait reaksi pasar terhadap kebijakan moneter terbaru dan kondisi eksternal. Pelaku pasar dianjurkan terus memantau rilis data ekonomi dan pernyataan resmi dari otoritas moneter sebagai acuan strategi investasi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button