Pariwisata Tembus Devisa, Topang Rupiah Ambles

Jakarta, Maret.id — Sandiaga Uno, pengusaha dan politisi yang pernah menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah harus ditanggapi dengan langkah konkret dan strategi ekonomi yang terukur untuk melindungi daya beli masyarakat. Pernyataan itu disampaikannya melalui akun X pada Jumat, 22 Mei 2026, dengan menegaskan, “Rupiah makin lemah bikin dompet kebobolan.”
Dampak Langsung pada Harga dan Investasi
Menurut Sandiaga, pelemahan rupiah mendorong kenaikan harga barang impor sehingga kebutuhan hidup masyarakat otomotis meningkat dan berpotensi menekan inflasi pada kelompok barang impor. Di sisi lain, ketidakpastian kondisi ekonomi global membuat investor cenderung menunda ekspansi usaha sehingga lapangan kerja baru ikut tertunda.
Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri menghadapi tekanan signifikan karena biaya produksi melonjak seiring biaya impor bahan baku yang lebih mahal. Tekanan ini, kata Sandiaga, dapat memperlambat pemulihan ekonomi jika tidak diimbangi kebijakan dukungan yang cepat dan tepat sasaran.
Pariwisata sebagai Penggerak Ekonomi
Sandiaga mencontohkan pengalaman Jepang dan Thailand yang menghadapi pelemahan mata uang namun lalu menguatkan sektor pariwisata sebagai bagian dari jawaban kebijakan ekonomi. “Mereka tidak hanya meratapi keadaan, tetapi langsung memperkuat sektor pariwisata secara masif yang pada akhirnya memberikan dampak positif bagi banyak usaha kecil,” ujarnya.
Ia menilai penguatan pariwisata domestik dan internasional bisa menjadi penyangga penting karena pelemahan rupiah menjadikan Indonesia relatif lebih murah dan menarik bagi wisatawan asing. Pada waktu bersamaan, produk UMKM seperti kuliner, fesyen, dan produk kreatif dinilai memiliki kesempatan lebih besar untuk menembus pasar global jika didukung promosi dan fasilitas ekspor yang memadai.
Peningkatan Keterampilan SDM dan Kesiapan Digital
Sandiaga juga menekankan urgensi peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, dengan penguasaan keterampilan digital, kecerdasan buatan (AI), dan kemampuan kewirausahaan. Menurutnya, upskilling dan reskilling menjadi kunci agar tenaga kerja tetap relevan dan mampu menangkap peluang bisnis baru di tengah tekanan ekonomi global.
Ia mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan untuk mempercepat program pelatihan yang fokus pada digitalisasi usaha, penerapan teknologi, serta pembinaan usaha baru agar UMKM lebih siap mengekspor dan berinovasi.
Kondisi Nilai Tukar dan Kebijakan Moneter
Nilai tukar rupiah tercatat kembali tertekan ke level Rp17.705 per Dolar AS pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, setelah sempat menguat ke Rp17.600 per Dolar AS pada perdagangan sehari sebelumnya. Fluktuasi ini memicu kekhawatiran pelaku usaha dan rumah tangga terkait biaya produksi serta harga kebutuhan pokok.
Pelemahan rupiah berlangsung meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026, upaya yang dimaksudkan untuk meredam tekanan inflasi dan stabilisasi nilai tukar. Pengamat dan pelaku pasar menilai langkah BI perlu dilengkapi dengan kebijakan fiskal serta program struktural untuk mendukung daya saing dan ketahanan sektor riil.
Respon dan Langkah Ke Depan
Sandiaga menekankan bahwa respons kebijakan harus bersifat menyeluruh, menggabungkan insentif bagi pariwisata dan UMKM, dukungan pembiayaan, serta program peningkatan keterampilan untuk meredam dampak pelemahan rupiah. Ia menyarankan agar pemerintah dan pelaku usaha menyusun rencana jangka menengah yang konkret agar tekanan eksternal tidak berujung pada pelemahan struktur ekonomi domestik.
Dengan kondisi nilai tukar yang masih rentan, fokus pada penguatan sektor riil, peningkatan kualitas SDM, dan penguatan ekosistem UMKM dinilai krusial untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.





