BI Dorong Rupiah Tembus Transaksi Lokal

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia menyatakan bahwa penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas batas dapat meningkatkan efisiensi transaksi dan mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS dalam transaksi bilateral.
Peningkatan Relevansi Local Currency Transaction (LCT)
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, mengatakan skema Local Currency Transaction (LCT) menjadi semakin relevan dalam konteks dinamika ekonomi global. Ia menyebut inisiatif LCT perlu terus dikembangkan untuk memperkuat kerja sama bilateral antarnegara.
Ruth mengemukakan bahwa LCT bukan dimaksudkan untuk mengabaikan peran Dolar AS secara keseluruhan karena mata uang tersebut masih dominan dalam transaksi global. Namun, bagi negara dan pelaku usaha yang memiliki volume perdagangan besar dengan satu sama lain, penggunaan mata uang domestik langsung dinilai lebih efisien dibandingkan harus memakai perantara dolar.
Data Pengguna dan Nilai Transaksi
Bank Indonesia mencatat jumlah pelaku yang menggunakan LCT meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir hingga April 2026. Rata-rata bulanan pengguna LCT mencapai 5.265 pelaku pada April 2026, naik dari 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.
Tren pertumbuhan berlanjut pada 2023 dengan 2.602 pelaku dan meningkat menjadi 5.020 pelaku pada 2024, sementara sepanjang 2025 rata-rata bulanan sempat menembus 9.720 pelaku. Selain kenaikan jumlah pengguna, nilai transaksi LCT juga melonjak tajam dimana hingga April 2026 volume tercatat mencapai 22,61 miliar dolar AS atau tumbuh 309 persen secara tahunan dibandingkan 7,33 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Mitra Utama dan Kontribusi Perdagangan
Bank Indonesia menyebut mitra utama dalam implementasi LCT saat ini meliputi China, Jepang, dan Malaysia. Kontribusi terbesar berasal dari China sebesar 89 persen, diikuti Jepang 6 persen dan Malaysia 3 persen.
Menurut BI, dominasi kontribusi China mencerminkan intensitas hubungan perdagangan dan penggunaan mata uang domestik dalam transaksi bilateral. Keberadaan mitra strategis semacam ini dinilai membantu memperdalam integrasi pasar keuangan regional.
Manfaat Ekonomi dan Efisiensi Transaksi
Salah satu manfaat yang dikemukakan BI adalah penurunan biaya transaksi karena pelaku usaha tidak perlu lagi menggunakan Dolar AS sebagai mata uang perantara. Pengurangan perantara tersebut diperkirakan dapat menekan biaya konversi dan risiko nilai tukar bagi eksportir dan importir.
BI juga menilai bahwa perluasan LCT akan mendukung pendalaman pasar keuangan regional serta memperluas partisipasi pelaku usaha, terutama usaha menengah dan kecil yang mungkin selama ini terhambat oleh biaya transaksi dalam mata uang asing.
Sejarah Implementasi dan Rencana Perluasan
Implementasi skema LCT Indonesia dimulai pada 2018 dengan kerja sama bersama Malaysia dan Thailand. Skema itu kemudian diperluas ke negara-negara lain seperti Jepang, China, dan Korea Selatan.
Dalam waktu dekat, Bank Indonesia merencanakan perluasan implementasi LCT dengan mitra tambahan termasuk Singapura, India, dan Arab Saudi sebagai bagian dari upaya memperluas jaringan transaksi mata uang lokal. BI menyatakan langkah-langkah teknis dan koordinasi bilateral akan terus ditingkatkan agar implementasi berjalan lancar.
Tantangan dan Langkah Ke Depan
Meski tren LCT menunjukkan perkembangan positif, BI mengakui masih ada tantangan seperti kesiapan infrastruktur pembayaran, likuiditas mata uang lokal, dan kebutuhan harmonisasi regulasi antarnegara. BI menekankan perlunya kerja sama lintas lembaga dan penguatan kapasitas pasar untuk mengatasi hambatan tersebut.
Ruth menegaskan bahwa penguatan kerja sama bilateral dan regional, termasuk harmonisasi mekanisme settlement dan pengembangan pasar valuta lokal, akan menjadi fokus ke depan. Dengan langkah-langkah tersebut, BI berharap LCT dapat semakin mendorong stabilitas dan efisiensi dalam perdagangan internasional yang melibatkan Indonesia.





