Ekonomi

Transaksi Lokal Melejit Tembus Rp400T, Naik 309%

Jakarta, Maret.id — Bank Indonesia mencatat volume transaksi Local Currency Transaction (LCT) naik 309 persen secara tahunan dari sebelumnya sebesar 7,32 miliar Dolar AS.

Peningkatan Volume Transaksi LCT

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth Cussoy Intama, menyatakan lonjakan tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya minat pelaku usaha menggunakan mata uang domestik dalam transaksi bilateral.

Ruth menyampaikan catatan itu pada keterangan pers di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat, 22 Mei 2026.

Peran dan Mekanisme LCT

Local Currency Transaction adalah mekanisme penyelesaian transaksi bilateral di mana pelaku usaha menggunakan mata uang domestik masing-masing negara mitra tanpa melalui Dolar AS sebagai mata uang perantara.

Penyelesaian dilakukan melalui bank yang ditunjuk sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) yang berfungsi memfasilitasi transaksi mata uang lokal antarnegara.

Lonjakan Partisipan

Bank Indonesia mencatat jumlah pelaku LCT terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dengan rata-rata bulanan mencapai 5.265 pelaku hingga April 2026.

Angka tersebut melonjak dari 497 pelaku pada 2021 lalu meningkat menjadi 1.741 pada 2022, 2.602 pada 2023, dan 5.020 pada 2024.

Rekor Partisipasi 2025

Tren kenaikan berlanjut sepanjang 2025 ketika rata-rata bulanan pengguna LCT sempat menembus 9.720 pelaku.

Kenaikan partisipasi ini menunjukkan semakin kuatnya minat pelaku usaha untuk menggunakan mata uang lokal dalam hubungan dagang di kawasan.

Dominasi Mitra Dagang

Data Bank Indonesia hingga April 2026 menunjukkan transaksi LCT Indonesia masih didominasi oleh beberapa negara mitra utama, dengan China sebagai kontributor terbesar.

China menyumbang sekitar 89 persen dari total transaksi, disusul Jepang sekitar 6 persen dan Malaysia sekitar 3 persen, sementara sisanya berasal dari negara seperti Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Dampak pada Biaya Transaksi dan Pasar Keuangan

Bank Indonesia menilai skema LCT berpotensi menekan biaya transaksi karena pelaku usaha tidak lagi wajib menggunakan Dolar AS sebagai mata uang perantara.

Selain itu, LCT juga dianggap mampu memperdalam pasar keuangan regional serta memperluas partisipasi pelaku usaha di kawasan regional.

Pandangan Bank Indonesia

Ruth menegaskan bahwa inisiatif ini bukan langkah untuk menghindari Dolar AS dalam seluruh aktivitas global karena peran Dolar AS tetap dominan.

“Bukan berarti kita menghindari Dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan Dolar AS,” ujarnya.

Ekspansi Kerja Sama LCT

Implementasi LCT Indonesia dimulai sejak 2018 bersama Malaysia dan Thailand, kemudian diperluas ke Jepang, China, dan Korea Selatan.

Ruth menyatakan bahwa dalam waktu dekat skema ini akan segera diimplementasikan juga dengan Singapura, India, dan Arab Saudi.

Potensi dan Tantangan Ke Depan

Perluasan LCT ke lebih banyak negara mitra dipandang dapat meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara dan memperkokoh jaringan mata uang lokal.

Namun realisasi manfaat jangka panjang akan bergantung pada kesiapan infrastruktur pasar, likuiditas mata uang domestik, serta koordinasi kebijakan antarbank sentral dan regulator keuangan di masing-masing negara mitra.

Kesimpulan

Kenaikan volume dan partisipasi LCT mencerminkan pergeseran praktik penyelesaian transaksi internasional di sejumlah rantai pasok regional menuju penggunaan mata uang lokal.

Bank Indonesia menilai langkah ini strategis untuk mendorong diversifikasi mata uang sekaligus memperdalam integrasi pasar keuangan regional, sambil tetap mengakui peran sentral Dolar AS dalam perdagangan global.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button