Ekonomi

Harga minyak dunia menguat tipis jelang pembukaan pasar global

Jakarta, Maret.id — Harga minyak mentah global ditutup menguat pada penutupan perdagangan Jumat dengan Brent naik 96 sen menjadi 103,54 dolar AS per barel dan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat bertambah 25 sen ke 96,60 dolar AS per barel.

Pergerakan mingguan

Meski menutup hari terakhir perdagangan menguat, secara mingguan kedua kontrak utama tersebut justru mengalami koreksi tajam; Brent tercatat turun lebih dari lima persen sedangkan WTI anjlok lebih dari delapan persen. Penurunan mingguan ini mengikuti keputusan pembatalan rencana serangan oleh pihak AS terhadap Iran yang dimaksudkan memberi ruang bagi proses negosiasi.

Ketidakpastian diplomasi

Pasar minyak tetap diselimuti ketidakpastian karena sejumlah isu krusial antara AS dan Iran belum mencapai titik temu, termasuk persoalan stok uranium Iran dan pengaturan atas kendali Selat Hormuz. Selat Hormuz tetap menjadi fokus pengawasan pelaku pasar karena fungsinya sebagai jalur pelayaran energi paling vital di dunia dan potensi gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak luas pada pasokan minyak global.

Sinyal diplomatik dan kehati-hatian pasar

Seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan terdapat “tanda-tanda baik” yang mengarah pada kemungkinan tercapainya kesepakatan damai, namun menekankan bahwa beberapa tuntutan tetap menjadi kendala utama. Para pelaku pasar menunjukkan kehati-hatian meskipun optimisme mulai muncul karena pengalaman negosiasi serupa sebelumnya yang sempat mendekati kesepakatan tetapi berakhir gagal.

Analisis pasar

Analis dari lembaga ING mencatat pasar masih bergerak berhati-hati dan menilai setiap perkembangan negosiasi akan segera coba diukur ulang oleh investor minyak. Mereka mengingatkan bahwa sentimen dapat berubah cepat jika negosiasi menemukan jalan buntu atau jika terjadi insiden yang mengancam arus pengiriman minyak di kawasan Teluk.

Risiko pasokan dan musim permintaan

Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan potensi masuknya pasar minyak ke “zona merah” menjelang musim panas ketika permintaan perjalanan biasanya meningkat sementara stok minyak global terus menipis. Kekhawatiran terhadap pasokan meningkat seiring penurunan cadangan dan adanya tekanan permintaan di musim puncak, sehingga pasar bisa mengalami volatilitas lebih tinggi.

Prospek jangka pendek tetap bergantung pada perkembangan diplomasi antara AS dan Iran serta indikator fundamental lain seperti data stok minyak, produksi negara produsen utama, dan dinamika permintaan global. Pelaku pasar diharapkan memantau berita diplomatik dan laporan pasokan dengan ketat untuk menilai potensi pergerakan harga dalam beberapa minggu mendatang.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button