Ekonomi

Ekonom Tegaskan Pelemahan Rupiah Berpotensi Rugikan Perekonomian Nasional

Jakarta, Maret.id — Josua menilai narasi yang menyebut pelemahan rupiah sebagai berkah bagi perekonomian Indonesia keliru dan menyesatkan karena tidak mempertimbangkan struktur industri nasional yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku.

Kesalahan Narasi di Media Sosial

Ia menyampaikan kritik itu menanggapi penyebaran pandangan di media sosial oleh beberapa influencer dan pengamat saham yang menyatakan pelemahan rupiah menguntungkan perekonomian.
Menurut Josua, banyak pernyataan yang “sangat tidak mengedukasi” dan menimbulkan kesan simplistis tentang dampak perubahan kurs terhadap seluruh sektor ekonomi.

Contoh Pernyataan yang Menyesatkan

Ia memberi contoh sejumlah influencer yang secara terbuka menyebut, “It’s good to have weakening rupiah,” dengan alasan bisa mendorong daya saing ekspor.
Josua menegaskan bahwa klaim tersebut hanya relevan untuk segmen pengekspor komoditas tertentu dan tidak mencerminkan kondisi sektor manufaktur.

Dampak terhadap Industri Manufaktur

Untuk industri manufaktur yang masih harus mengimpor bahan baku, pelemahan rupiah justru meningkatkan biaya produksi dan menambah beban pelaku usaha.
“Kalau kita bicara industri manufaktur yang mesti mengimpor dulu bahan baku, ini pasti akan memberatkan,” ujarnya pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Ketergantungan pada bahan baku impor membuat banyak perusahaan menghadapi risiko fluktuasi biaya yang tajam ketika nilai tukar melemah.
Akibatnya, perencanaan bisnis menjadi lebih sulit karena biaya input menjadi tidak terduga dan margin keuntungan tertekan.

Peran Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas

Josua menekankan bahwa tugas utama Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas nilai tukar, bukan mengarahkan kurs ke level tertentu demi kepentingan jangka pendek.
Stabilitas ini dianggap penting oleh pelaku usaha untuk memberikan kepastian dalam perencanaan impor tiga bulan hingga enam bulan ke depan.

Menurutnya, kestabilan kurs membantu perusahaan menghitung kebutuhan impor, menentukan harga produk, dan berkomunikasi dengan pemasok luar negeri secara lebih terukur.
Tanpa stabilitas tersebut, biaya hedging dan risiko finansial perusahaan cenderung meningkat, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi investasi dan lapangan kerja.

Implikasi bagi Kebijakan dan Pelaku Usaha

Josua mengingatkan pembuat kebijakan dan pelaku pasar agar berhati‑hari dalam menyederhanakan narasi ekonomi yang kompleks.
Pandangan bahwa pelemahan rupiah otomatis menguntungkan negara bisa menyesatkan pembuat keputusan dan menimbulkan ekspektasi keliru di kalangan investor dan publik.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan pentingnya edukasi publik mengenai dampak makroekonomi dan struktur industri nasional.
“Pada intinya, itu adalah pernyataan yang menyesatkan kalau kita bicara Indonesia diuntungkan dengan adanya pelemahan rupiah, karena manufaktur kita pada umumnya masih lebih banyak mengimpor bahan baku,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button