Program edukasi keuangan menggandeng kampus membantu mahasiswa mencapai kestabilan finansial

Jakarta, Maret.id — BantuSaku memperkuat program literasi keuangan untuk mahasiswa seiring lonjakan penggunaan layanan keuangan digital di kalangan generasi muda.
Arnoldyth Rodes Medo, Chief Executive Officer BantuSaku, menyatakan peningkatan pemahaman finansial menjadi fondasi kebiasaan keuangan yang sehat sejak dini.
Lonjakan Penggunaan Layanan Digital
Penggunaan aplikasi dompet digital dan pinjaman daring meningkat pesat di kalangan mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan mendesak akan edukasi agar pemanfaatan layanan finansial berlangsung secara bertanggung jawab.
Banyak mahasiswa tumbuh bersama perkembangan teknologi sehingga akses ke produk keuangan semakin mudah. Akses mudah tersebut juga membawa potensi risiko jika tidak disertai pemahaman yang memadai.
Program Edukasi dan Kolaborasi Strategis
BantuSaku berencana memperkuat program edukasi finansial dan menjalin kolaborasi strategis dengan AFPI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta mitra industri pinjaman daring seperti UATAS dan PinjamDuit. Langkah ini ditujukan untuk mendorong peningkatan literasi keuangan yang relevan bagi generasi muda.
Perusahaan menargetkan penyusunan materi edukasi yang mudah diakses dan kontekstual bagi mahasiswa. Materi tersebut akan dirancang untuk menjawab persoalan praktis seperti perencanaan anggaran, penggunaan kredit, dan mitigasi risiko.
Risiko dan Tanggung Jawab
Praktik peminjaman tanpa pemahaman yang cukup dapat meningkatkan risiko utang berlebihan dan dampak negatif lain pada kondisi keuangan personal. Oleh karena itu, edukasi juga harus menekankan aspek perlindungan konsumen, transparansi biaya, dan konsekuensi kredit.
Otoritas Jasa Keuangan memiliki peran pengawasan untuk memastikan penyelenggara fintech mematuhi aturan perlindungan konsumen. Sementara itu, asosiasi industri dapat membantu merumuskan standar praktik dan materi edukasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna muda.
BantuSaku menyatakan akan menghadirkan modul edukasi finansial berbasis digital yang mudah diakses oleh mahasiswa. Materi akan mencakup perencanaan anggaran, pemanfaatan kredit secara bijak, literasi risiko, dan praktik keamanan data.
Perusahaan juga bermaksud melakukan evaluasi efektivitas program melalui indikator peningkatan literasi dan perubahan perilaku finansial. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar pengembangan program lanjutan yang lebih terukur.
Arnoldyth menegaskan bahwa pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang sehat penting agar mahasiswa mampu mengambil keputusan finansial secara bijak. Ia menambahkan bahwa inklusi keuangan sebaiknya berjalan beriringan dengan penguatan edukasi masyarakat.
Mahasiswa berada pada fase transisi menuju kemandirian ekonomi sehingga perlu mendapat pembekalan finansial sejak dini. Pembiasaan pengelolaan anggaran dan penggunaan produk pembiayaan yang bertanggung jawab diharapkan membawa manfaat jangka panjang bagi stabilitas ekonomi pribadi.
BantuSaku membuka peluang kerja sama program dengan perguruan tinggi untuk menjangkau lebih banyak peserta. Kolaborasi tersebut dapat meliputi seminar, lokakarya, dan integrasi materi ke dalam kurikulum kewirausahaan atau pelatihan keterampilan hidup.
Selain literasi finansial, perusahaan juga menekankan pentingnya literasi digital dan perlindungan data pribadi. Pendidikan akan mengajarkan praktik transaksi aman dan kemampuan mengenali potensi penipuan online.
Dalam pernyataannya, BantuSaku berkomitmen melanjutkan program edukasi secara berkelanjutan dan adaptif. Perusahaan berencana melaporkan perkembangan kerja sama dan hasil program secara berkala kepada mitra.
BantuSaku juga menyebut akan menyediakan materi dalam format interaktif seperti video, kuis, dan simulasi untuk meningkatkan keterlibatan peserta. Pendekatan interaktif diharapkan lebih efektif dibanding metode tradisional yang bersifat pasif.
Pihak kampus diharapkan berperan aktif dalam mengarahkan mahasiswa memanfaatkan layanan finansial digital dengan bijak. Universitas dinilai sebagai ruang strategis untuk menanamkan kebiasaan finansial sehat dan membentuk pola pikir dewasa terkait pengelolaan dana.
Upaya ini dinilai sejalan dengan kebijakan nasional untuk memperluas inklusi keuangan dan mengurangi kesenjangan akses terhadap layanan keuangan. Keberhasilan program akan sangat bergantung pada koordinasi antara penyedia layanan, regulator, asosiasi, institusi pendidikan, dan masyarakat.





