Iran Bantah Klaim Trump, Sebut AS Terapkan Blokade Laut, Harga Minyak Melejit!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Iran menyatakan Amerika Serikat masih memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, meskipun mantan Presiden AS Donald Trump sempat mengklaim kebijakan tersebut akan dicabut.
Mohsen Rezaei, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, menyampaikan penilaian itu pada Sabtu (30/5) melalui unggahan di platform X. Pernyataan Rezaei muncul sehari setelah klaim Trump pada Jumat (29/5) yang menyebut blokade laut “sekarang akan dicabut” dan bahwa keputusan akhir akan diambil dalam pertemuan di Situation Room Gedung Putih.
Reaksi Resmi dari Tehran
Rezaei menilai langkah Washington menunjukkan ketidakkonsistenan dan kurangnya komitmen terhadap proses diplomasi. Ia menuduh bahwa dengan melanjutkan blokade laut dan mengajukan tuntutan yang dianggap berlebihan, pihak AS tidak sungguh mendukung dialog yang jujur.
Unggahan tersebut menyebut tindakan yang diambil AS sebagai pengkhianatan terhadap upaya diplomasi, dan menegaskan bahwa kebijakan Washington memiliki tujuan lain di luar perundingan. Pernyataan itu mempertegas kekhawatiran Tehran bahwa tekanan maritim masih menjadi alat kebijakan luar negeri AS terhadap Iran.
Latar Belakang Ketegangan
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah serangkaian insiden dan serangan yang dilaporkan menarget beberapa objek di Iran pada 28 Februari, yang menurut laporan menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Pada 7 April, kedua negara sempat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata sementara yang berlaku selama dua pekan, tetapi upaya lanjutan untuk mencapai perjanjian lebih permanen di Islamabad berakhir tanpa hasil.
Setelah pembicaraan di Islamabad berakhir tanpa titik temu, Amerika Serikat memberlakukan langkah-langkah yang termasuk blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang kemudian menjadi salah satu isu utama dalam hubungan bilateral. Isu blokade ini kini memengaruhi dinamika perundingan, kepercayaan diplomatik dan keamanan jalur pelayaran regional.
Respons Internasional dan Potensi Dampak
Beberapa pemerhati internasional menyatakan kekhawatiran bahwa kelanjutan blokade laut dapat memperburuk situasi keamanan maritim dan berdampak pada pasokan energi global. Negara-negara yang bergantung pada jalur pelayaran di kawasan Teluk dan Laut Persia dinilai akan merasakan dampak ekonomi jika ketegangan meningkat.
Selain dampak ekonomi, tekanan maritim juga berpotensi memperumit saluran diplomasi yang sempat terbuka ketika gencatan senjata sementara diumumkan, sehingga membuat prospek negosiasi lebih rinci menjadi lebih sulit. Pengamat menekankan pentingnya mediasi pihak ketiga dan mekanisme pengawasan internasional untuk mencegah eskalasi yang tidak terkendali.
Prospek Perundingan dan Langkah Tehran
Dengan klaim Washington yang bertentangan antara pernyataan publik dan tindakan di lapangan, Tehran tampak skeptis terhadap niat baik yang ditunjukkan oleh pihak AS. Pemerintah Iran diperkirakan akan terus memantau perkembangan dan menilai opsi diplomatik serta langkah ekonomi atau politik balasan jika blokade berlanjut.
Para analis mengatakan bahwa kembalinya jalur diplomasi yang kredibel tergantung pada konsistensi tindakan dan kepastian jaminan dari pihak-pihak yang terlibat, termasuk kesediaan untuk menghapus hambatan praktis di lapangan. Sementara itu, masyarakat internasional diperkirakan akan terus memantau perkembangan agar situasi tidak meluas menjadi konfrontasi yang lebih besar.
Isu blokade laut ini tetap menjadi titik perselisihan utama dalam hubungan AS–Iran dan akan menjadi salah satu faktor penentu keberlanjutan upaya diplomasi di kawasan selama beberapa waktu ke depan.





