Netanyahu Kunjungi Pasukan Suriah, Klaim Kuasai Zona Strategis Memanas Ketegangan dengan Iran!

Jakarta, Maret.id — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meninjau langsung posisi pasukan militer Israel di wilayah Suriah pada Rabu (9/9/2026).
Kunjungan ke Garis Depan
Dalam kunjungan itu, Netanyahu terlihat berada di zona yang disebutnya strategis bagi keamanan Israel.
Ia melakukan peninjauan bersama sejumlah pejabat militer dan pertahanan senior negara tersebut.
Kantor Perdana Menteri merilis rekaman video kunjungan yang memperlihatkan Netanyahu berbicara di depan para personel.
Pernyataan dan aktivitas tersebut segera memicu reaksi dari sejumlah pihak internasional serta otoritas Suriah.
Klaim Kendali Wilayah dan Ancaman terhadap Iran
Dalam pernyataannya, Netanyahu mengklaim Israel kini menguasai kawasan yang membentang dari puncak Gunung Hermon hingga Sungai Yarmouk.
Ia menegaskan pihaknya memiliki “kendali yang belum pernah dimiliki sebelumnya” atas koridor tersebut dan menyampaikan ancaman untuk menggulingkan rezim Iran.
Pernyataan itu menunjukkan eskalasi retorika terhadap Teheran dan kelompok-kelompok bersenjata yang diduga beroperasi di sepanjang perbatasan.
Langkah politik semacam ini dinilai dapat memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh.
Reaksi Suriah dan Tuntutan Penarikan
Otoritas di Damaskus secara berulang menuntut agar pasukan Israel ditarik dari wilayah yang mereka nilai sebagai wilayah Suriah.
Sementara itu, sejumlah laporan menyebutkan kehadiran militer Israel di beberapa zona selatan Suriah berlangsung sejak perubahan signifikan di pemerintahan pusat pada akhir 2024.
Klaim-klaim terkait kontrol wilayah dan status zona penyangga menimbulkan kontroversi hukum dan politik internasional.
Suriah menilai keberadaan pasukan asing tanpa persetujuan sebagai pelanggaran kedaulatan nasional.
Penilaian PBB dan Tanggapan Israel
Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan kekhawatiran atas penguatan kehadiran militer Israel di Suriah selatan dan mengindikasikan potensi pelanggaran hukum humaniter.
PBB menyebut tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai pendudukan dan membuka kemungkinan adanya investigasi lebih lanjut.
Pemerintah Israel membantah tuduhan itu dan menegaskan bahwa penempatan pasukan merupakan langkah sementara untuk keamanan nasional.
Pejabat Israel menilai tindakan itu perlu untuk menghadang apa yang mereka sebut ancaman teror dan infiltrasi bersenjata.
Implikasi Regional dan Respons Internasional
Keberadaan pasukan Israel di wilayah berbatasan meningkatkan kekhawatiran para negara tetangga dan aktor global terhadap risiko eskalasi militer.
Beberapa diplomat Barat menyerukan deeskalasi dan kembalinya dialog politik untuk mencegah konflik yang lebih luas.
Pernyataan Netanyahu terkait Iran dipandang sebagai provokatif oleh pengamat, karena dapat memicu reaksi berantai dari kelompok dan negara yang mendukung Tehran.
Analis keamanan memperingatkan bahwa retorika yang mengarah pada perubahan rezim di negara lain berpotensi menambah ketidakstabilan di seluruh kawasan.
Israel hingga kini mempertahankan bahwa langkah-langkah militernya adalah upaya defensif untuk melindungi perbatasan dan warga negaranya.
Namun, tekanan dari komunitas internasional tetap kuat agar semua pihak menahan diri dan mencari penyelesaian melalui mekanisme diplomatik.
Berita-berita lanjutan mengenai perkembangan di lapangan dan respons internasional diperkirakan akan terus muncul seiring dinamika situasi di Suriah selatan.
Pengamat menilai fokus utama kini adalah bagaimana meminimalkan risiko bentrokan langsung antara kekuatan regional yang terlibat.





