Dunia

Iran Buka Selat Hormuz jika AS Penuhi Syarat, Waspada Gangguan Pasokan Minyak!

Jakarta, Maret.id — Iran masih mempertimbangkan rencana membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.

Rencana Pembukaan Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyatakan proposal tujuh hari itu masih dalam pembahasan pemerintah. Pernyataan itu disampaikan saat ia menghadiri Sidang Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam di Baghdad pada 18 Oktober 2026.

Rencana tersebut, menurut pernyataan resmi pejabat Iran, mengatur agar Selat Hormuz dibuka kembali pada hari keenam jika persyaratan dipenuhi dan negosiasi dilanjutkan pada hari ketujuh. Washington disebut telah memberi tanggapan atas proposal Teheran yang kini sedang dipelajari lebih lanjut oleh pihak Iran.

Persyaratan Teheran untuk Washington

Araghchi menegaskan bahwa syarat yang diajukan Teheran tidak berlebihan dan sejalan dengan komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman dan perundingan sebelumnya. Meski membuka ruang diplomasi, Iran menegaskan tidak akan menyerah di bawah tekanan atau ancaman dan tetap siap mempertahankan diri jika diperlukan.

Pemerintah Iran menekankan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi pilihan untuk menyelesaikan masalah, namun pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut bergantung pada pemenuhan persyaratan dari pihak Amerika Serikat. Posisi ini menegaskan kombinasi antara tekanan politik dan kesiapan militer dalam strategi Teheran.

Latar Belakang Eskalasi dan Upaya Diplomasi

Ketegangan meningkat setelah serangkaian serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap target di Iran pada 28 Februari, yang kemudian direspons oleh Teheran dengan serangan rudal dan pesawat tanpa awak terhadap pangkalan serta aset yang dianggap terkait. Dalam eskalasi tersebut, Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.

Konflik sempat mereda dengan tercapainya gencatan senjata pada 8 April, namun upaya diplomatik berlanjut termasuk penandatanganan nota kesepahaman pada 18 Juni yang bertujuan mengakhiri perang di kawasan dan membuka jalan bagi perundingan lebih lanjut. Nota kesepahaman itu menetapkan kerangka waktu 60 hari untuk melanjutkan dialog sampai batas akhir 17 Agustus, tetapi sampai saat ini belum menghasilkan kesepakatan final.

Dampak ekonomi dan geopolitik dari penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian internasional karena jalur tersebut merupakan rute penting pengiriman minyak dan gas. Penutupan atau gangguan lalu lintas di selat ini berisiko menaikkan harga energi, meningkatkan premi asuransi pelayaran, dan memicu ketidakpastian pasar global.

Pemangku kepentingan internasional dan pelaku pasar kini mengamati perkembangan negosiasi antara Tehran dan Washington, sementara negara-negara pengimpor energi berupaya mencari alternatif pasokan jika ketegangan terus berlanjut. Upaya diplomatik berikutnya dinilai krusial untuk mencegah eskalasi lebih jauh dan memulihkan kestabilan jalur pelayaran internasional.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button