4.071 penerbangan di Arab Saudi dibatalkan, Memanas gangguan pasokan minyak!

Jakarta, Maret.id — Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani menghubungi Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dalam upaya meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Komunikasi intensif ini berlangsung di tengah meningkatnya serangan dari kelompok Houthi yang berdampak luas pada lalu lintas udara dan stabilitas kawasan.
Upaya diplomatik Doha
Sheikh Mohammed menegaskan pentingnya keamanan Arab Saudi sebagai bagian dari keamanan bersama negara-negara Teluk dan menyerukan langkah-langkah diplomatik untuk menurunkan tensi. Dalam pembicaraan terpisah dengan Menlu Mesir, Doha juga menegaskan dukungan terhadap inisiatif yang menjaga kebebasan navigasi dan mendorong tercapainya perdamaian jangka panjang.
Langkah diplomatik Qatar difokuskan pada pencegahan eskalasi lebih lanjut dan pemulihan ketenangan regional. Pemerintah Qatar mendorong dialog lintas negara untuk mengurangi risiko konflik yang dapat meluas ke infrastruktur sipil dan rute pelayaran strategis.
Gangguan penerbangan di Riyadh
Serangan rudal balistik dan pesawat tak berawak yang dilancarkan Houthi dari Yaman mengganggu operasi Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Data perusahaan analitik penerbangan Cirium menunjukkan sebanyak 4.071 dari total 4.736 penerbangan terjadwal di bandara tersebut dibatalkan pada periode 8–25 Oktober 2026, atau sekitar 86 persen dari seluruh jadwal.
Bandara King Khalid, yang menjadi bandara tersibuk kedua di Arab Saudi setelah Jeddah, berulang kali menjadi target serangan Houthi bersama dengan pelabuhan dan fasilitas minyak. Salah satu serangan pada 10 Oktober dilaporkan menyebabkan 13 korban jiwa, memaksa otoritas setempat menghentikan operasi hingga pembukaan sebagian pada hari Minggu setelah penutupan sejak 10 Oktober.
Dampak pada keamanan regional dan ekonomi
Gangguan penerbangan dan serangan terhadap infrastruktur vital menambah tekanan pada stabilitas kawasan dan berpotensi mengganggu rantai pasokan serta investasi asing. Negara-negara di Teluk dan mitra internasional semakin memperhatikan risiko terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz dan jalur pelayaran utama lainnya.
Analis keamanan menilai bahwa kombinasi serangan berskala kecil namun berulang dapat menimbulkan biaya ekonomi signifikan dan meningkatkan ketidakpastian investor. Upaya diplomatik seperti yang dilakukan Qatar dinilai penting untuk menahan laju eskalasi sambil membuka ruang bagi solusi politik dan keamanan.
Tanggapan otoritas dan langkah selanjutnya
Otoritas Arab Saudi terus meninjau langkah-langkah keamanan untuk melindungi fasilitas sipil dan infrastruktur transportasi udara, sekaligus berkoordinasi dengan mitra regional. Negara-negara yang terdampak juga mengkonsultasikan opsi diplomatik dan keamanan untuk memastikan pemulihan layanan publik dan keselamatan warga sipil.
Para pemangku kepentingan regional diharapkan meningkatkan dialog multilateral dalam beberapa hari mendatang untuk merumuskan respons terpadu terhadap ancaman yang terus berlangsung. Sementara itu, masyarakat sipil dan pelaku industri penerbangan memantau perkembangan untuk menilai dampak jangka pendek hingga menengah pada jadwal dan keamanan perjalanan.





