Inflasi Soroti Tekanan Daya Beli dan Risiko Pasar Modal!

Jakarta, Maret.id — Inflasi kembali menjadi topik sentral di kalangan pengamat ekonomi dan pelaku pasar seiring tekanan harga yang dirasakan oleh masyarakat pada berbagai komoditas pokok.
Apa itu Inflasi?
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa dalam jumlah besar yang terjadi secara terus menerus dalam periode tertentu. Pengukuran inflasi umumnya dilakukan selama satu tahun oleh lembaga statistik nasional untuk mengetahui perubahan tingkat harga secara agregat.
Badan Pusat Statistik (BPS) berperan untuk melakukan survei dan mengumpulkan data harga berbagai macam barang serta jasa yang dianggap mewakili kebutuhan konsumsi masyarakat. Data hasil survei tersebut kemudian dibandingkan dengan periode sebelumnya untuk mengukur tingkat inflasi.
Penyebab Inflasi
Salah satu penyebab inflasi adalah meningkatnya peredaran uang di masyarakat akibat merosotnya nilai mata uang yang berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa. Fenomena ini seringkali berakar pada kebijakan moneter longgar yang meningkatkan jumlah uang beredar.
Inflasi juga dapat muncul ketika permintaan barang atau jasa meningkat namun pasokan tidak mencukupi (demand pull inflation). Selain itu, kenaikan biaya produksi yang menekan penawaran juga memicu cost push inflation dan gangguan pasokan dapat menghasilkan bottle neck inflation.
Jenis-Jenis Inflasi
Inflasi dapat dikategorikan berdasarkan asalnya, yaitu inflasi domestik yang terjadi apabila jumlah uang beredar di dalam negeri melebihi kebutuhan dan inflasi dari luar negeri yang timbul akibat kenaikan harga barang impor. Kondisi eksternal seperti kenaikan harga bahan baku global dapat menular ke harga domestik melalui kanal impor.
Berdasarkan penyebabnya, inflasi diklasifikasikan sebagai demand pull inflation ketika permintaan melebihi kapasitas produksi, cost push inflation ketika kenaikan biaya produksi mendorong harga, serta bottle neck inflation yang timbul akibat ketidakseimbangan penawaran dan permintaan di pasar.
Berdasarkan Dampaknya
Tingkat keparahan inflasi beragam dan memiliki implikasi berbeda bagi perekonomian dan masyarakat. Inflasi ringan ditandai dengan kenaikan harga barang dan jasa di bawah 10% per tahun dan masih dapat dikendalikan oleh kebijakan ekonomi.
Inflasi sedang berada pada kisaran 10% hingga 30% per tahun dan dampaknya mulai dirasakan kelompok berpenghasilan tetap meskipun belum mengancam stabilitas makro secara luas. Inflasi berat, dengan kenaikan harga pada kisaran 30% hingga 100% per tahun, berdampak signifikan pada perilaku ekonomi masyarakat termasuk preferensi menyimpan barang daripada menabung.
Inflasi sangat berat, yang terjadi pada kisaran 100% ke atas per tahun, berpotensi mengacaukan perekonomian dan sulit dikendalikan meskipun pemerintah menerapkan kebijakan moneter maupun fiskal.
Pengukuran Tingkat Inflasi
Di Indonesia, pengukuran tingkat inflasi umumnya menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebagai indikator utama. Pengukuran IHK didasarkan pada 11 kelompok pengeluaran yang mewakili pola konsumsi masyarakat.
Kesebelas kelompok pengeluaran tersebut meliputi: kelompok makanan, minuman, dan tembakau; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; kelompok pakaian dan alas kaki; kelompok kesehatan; kelompok transportasi; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan; kelompok pendidikan; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Dampak Inflasi
Salah satu dampak langsung inflasi adalah berkurangnya daya beli masyarakat karena harga barang dan jasa meningkat sementara nilai uang menurun. Kondisi ini mendorong perubahan perilaku konsumen yang cenderung menahan pengeluaran sehingga pertumbuhan ekonomi dapat melambat.
Penurunan nilai uang juga mendorong masyarakat menggunakan tabungan dan investasi yang semula diperuntukkan bagi kebutuhan masa depan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, inflasi yang tinggi dapat mendorong kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral sebagai upaya menekan permintaan dan mengendalikan inflasi.
Kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan bisnis sehingga aktivitas kredit dan pembelian barang durable seperti properti dan kendaraan cenderung menurun. Dampak kumulatif tersebut berpotensi menghambat produksi dan investasi serta menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Cara Mengatasi Inflasi
Penanggulangan inflasi pada umumnya melibatkan kombinasi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga kestabilan harga dan nilai mata uang. Bank Indonesia sebagai bank sentral memiliki instrumen untuk membatasi jumlah uang beredar dan menyesuaikan suku bunga guna menarik kembali likuiditas berlebih.
Di sisi fiskal, pemerintah dapat mengatur pemasukan dan pengeluaran negara melalui kebijakan seperti penyesuaian tarif pajak, peningkatan ketersediaan barang di pasar melalui intervensi pasokan, serta penghematan belanja pemerintah untuk mengurangi tekanan permintaan. Selain langkah kebijakan makro, pelaku ekonomi juga disarankan mempertimbangkan instrumen lindung nilai seperti emas yang historis dipandang sebagai aset yang relatif stabil terhadap depresiasi nilai mata uang.





