Ekonomi

Ekonom Tegaskan Intervensi BI Tak Cukup Stabilkan Rupiah Rp16 Ribuan!

Jakarta, Maret.id — Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai penguatan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp16.000 per dolar AS tidak akan tercapai hanya dengan intervensi bank sentral. Pendekatan tersebut menurutnya harus dilengkapi dengan penguatan fiskal, peningkatan arus modal asing, dorongan ekspor, serta pemulihan kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi domestik.

Kemungkinan Penguatan Rupiah

Rizal menyatakan rupiah masih berpeluang menguat apabila tekanan global mereda dan permintaan valuta asing menurun. Namun ia menegaskan bahwa untuk kembali stabil pada level Rp16.000-an dibutuhkan dukungan kebijakan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Rizal juga mengomentari proyeksi nilai tukar yang memosisikan rata-rata tahunan pada kisaran Rp16.200-16.800. Ia menilai secara matematis target tersebut masih mungkin dicapai tetapi menjadi sangat berat mengingat posisi nilai tukar saat ini sudah berada di atas Rp17.600.

Faktor Penyebab Pelemahan

Dalam perspektif pasar keuangan, Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menekankan peran arus modal jangka pendek dalam menekan rupiah. Myrdal menyebutkan tekanan saat ini bukan berasal dari sektor riil maupun aktivitas ekspor-impor melainkan dari arus keluar modal asing jangka pendek (hot money outflow).

Myrdal juga mencatat adanya faktor musiman yang turut memperberat tekanan, termasuk transfer dividen dan kebutuhan devisa untuk pelaksanaan ibadah haji. Selain itu, ia menyoroti praktik penahanan devisa oleh eksportir yang belum mengkonversi hasil ekspor sebagai salah satu hambatan penguatan rupiah.

Dinamika Neraca Perdagangan dan Devisa

Myrdal mengamati bahwa surplus neraca perdagangan justru melebar seiring pelemahan rupiah karena penguatan dolar AS mendorong importir menahan ekspansi sehingga impor menurun. Kondisi ini membuat selisih ekspor-impor semakin besar walau tidak secara otomatis menetralkan tekanan di pasar valuta.

Di sisi lain, Myrdal melihat peluang penambahan devisa masih terbuka dari beberapa sumber utama seperti ekspor berbasis komoditas, sektor manufaktur, kegiatan hilirisasi, serta pemulihan sektor pariwisata. Ia menekankan pentingnya memaksimalkan konversi devisa hasil ekspor agar tidak terjadi akumulasi penahanan valas yang mengurangi likuiditas dolar di pasar domestik.

Peran Kebijakan dan Langkah Ke Depan

Para analis menilai intervensi moneter oleh bank sentral perlu dipadukan dengan sinergi kebijakan fiskal yang dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat permintaan domestik yang sehat. Peningkatan arus modal masuk, baik melalui solusi fiskal maupun insentif bagi investasi jangka panjang, dianggap krusial untuk menstabilkan kurs dalam jangka menengah.

Sementara itu, pengembangan rantai nilai di sektor manufaktur dan akselerasi hilirisasi komoditas dinilai dapat memperkuat basis ekspor dan menyediakan sumber devisa yang lebih stabil. Upaya koordinasi kebijakan antara otoritas fiskal, moneter, dan regulator pasar modal dinilai perlu diperkuat untuk merespons dinamika eksternal yang memengaruhi nilai tukar.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button