Ekonomi

Bulog Siapkan Kapasitas Gudang 7 juta Ton, Tekan Fluktuasi Harga Gabah Petani!

Jakarta, Maret.id — Direksi Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa perseroan menyiapkan kapasitas gudang hingga 7 juta ton untuk mengoptimalkan penyerapan gabah dan beras petani secara nasional sepanjang tahun 2026. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi terhadap keberlanjutan panen petani yang menjadi sumber pasokan utama bagi ketahanan pangan nasional.

Rasionalitas perluasan kapasitas gudang

Rizal menegaskan bahwa peningkatan kapasitas merupakan respons terhadap realitas produksi gabah yang terus berlangsung dan permintaan penyerapan oleh pemerintah yang tidak dapat dihentikan. “Kalau kita antisipasi saja. Jadi kita antisipasi kalau yang namanya petani panen ini kan nggak bisa kita hentikan. Yang namanya petani sudah tanam kan mau nggak mau pasti harus kita serap,” ujar Rizal sebagai penjelasan strategi penyerapan Bulog.

Realisasi penyerapan dan tekanan pada ruang penyimpanan

Bulog mencatat pada tahun 2025 awalnya ditarget menyerap 3 juta ton beras namun realisasinya melampaui target karena produksi petani meningkat sepanjang musim panen. Data internal menunjukkan Bulog berhasil menyerap lebih dari 3 juta ton atau mendekati 3,2 juta ton beras sehingga kebutuhan gudang tambahan menjadi penting untuk menjaga cadangan pemerintah.

Seluruh gudang yang dikelola Perum Bulog disebut telah hampir penuh dengan tingkat pemanfaatan mencapai hampir 4 juta ton sehingga perseroan terpaksa menyewa gudang swasta untuk menampung gabah setara beras yang diserap dari petani di dalam negeri. Rizal menegaskan upaya memperkuat kapasitas penyerapan dan penyimpanan merupakan prioritas agar hasil panen petani dapat terserap secara optimal dan harga di tingkat petani mendapatkan kepastian pasar.

Cadangan Beras Pemerintah dan target penyerapan 2026

Perum Bulog melaporkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 5,3 juta ton hingga akhir Mei 2026 sebagai bagian langkah memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas pasokan nasional. Selain menjaga stok nasional, Bulog juga terus mengoptimalkan penyerapan hasil panen petani yang saat ini telah mendekati 3 juta ton setara beras dari target 4 juta ton sepanjang 2026.

Realisasi penyerapan gabah petani tersebut telah mencapai 74 persen atau sekitar 2,96 juta ton guna memperkuat cadangan beras pemerintah nasional. Penyerapan dilakukan sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram, yang dimaksudkan untuk memberikan kepastian harga bagi petani sekaligus menstabilkan pasokan di pasar domestik.

Strategi penyimpanan jangka menengah dan investasi infrastruktur

Sebagai bagian strategi mengurangi ketergantungan pada sewa gudang swasta, Bulog sedang menyiapkan pembangunan 100 gudang baru untuk menyimpan stok cadangan pangan pemerintah, termasuk beras dan jagung. Menurut Rizal, tambahan fasilitas ini dimaksudkan “supaya tidak perlu sewa gudang ke depan” dan untuk memperkuat infrastruktur logistik pangan nasional.

Langkah ini juga mencerminkan upaya untuk menurunkan risiko biaya operasional jangka panjang yang timbul dari penyewaan ruang penyimpanan, serta meningkatkan efisiensi distribusi cadangan pangan. Peningkatan kapasitas fisik di titik-titik strategis diharapkan dapat meredam tekanan musiman saat panen dan mengurangi volatilitas pasokan antarwilayah.

Dampak terhadap petani dan stabilitas harga

Bulog memandang lonjakan stok beras sebagai indikasi meningkatnya produksi sekaligus tingginya kepercayaan petani terhadap penyerapan pemerintah, yang pada gilirannya memberikan insentif untuk keberlanjutan produksi. Kepastian penyerapan dan HPP yang ditetapkan menjadi instrumen kebijakan yang dirancang untuk menjaga harga di tingkat petani agar tetap layak dan memicu investasi produksi padi.

Namun, peningkatan kapasitas penampungan dan penyerapan juga menuntut penguatan manajemen rantai pasokan termasuk transportasi, pengeringan, dan pengolahan untuk menjaga mutu gabah dan efisiensi biaya. Pengelolaan stok yang lebih besar akan membutuhkan koordinasi antara Bulog, pemerintah daerah, dan pelaku swasta untuk memastikan cadangan dapat diakses ketika diperlukan tanpa menurunkan kualitas beras.

Perum Bulog menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat mekanisme penyerapan dan penyimpanan demi menjaga stabilitas pasokan serta mendukung kesejahteraan petani. Kebijakan dan investasi yang dilakukan selama 2026 diharapkan menempatkan sistem cadangan pangan nasional dalam posisi lebih tangguh menghadapi fluktuasi produksi dan permintaan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button