KAI Services Genjot Penjualan UMKM Kuliner Banyuwangi, Dorong Pendapatan Lokal!

Jakarta, Maret.id — Anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (Persero), KAI Services, menjajaki penguatan layanan restorasi kereta dengan menghadirkan pilihan kuliner khas Banyuwangi, Jawa Timur, melalui kerja sama dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. Inisiatif ini menargetkan kereta api yang berelasi dengan stasiun Banyuwangi sebagai bagian upaya diversifikasi produk restorasi dan peningkatan pengalaman penumpang.
Kemitraan dengan UMKM Lokal
Manajer Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, menyatakan bahwa terdapat dua pengusaha UMKM Banyuwangi yang dilibatkan, yakni Warung Mbok Wah dan Srengenge Wetan, untuk memasok menu khas daerah. Kesepakatan ini mencerminkan strategi KAI Services untuk memperkuat ekosistem bisnis lokal melalui alur distribusi pada moda transportasi massal.
Warung Mbok Wah dikenal sebagai penyaji nasi tempong, hidangan khas Banyuwangi yang menonjolkan lauk lalapan dengan sambal ekstra pedas, sementara pengolahan sambal tempong menggunakan bahan khas yaitu tomat ranti. Untuk lini produk yang disajikan di kereta, Warung Mbok Wah menyediakan tiga varian nasi tempong yaitu nasi tempong ayam, nasi tempong udang, dan nasi tempong telur.
Sementara itu, UMKM Srengenge Wetan memasok beberapa menu lain yang juga merupakan kuliner khas daerah, antara lain ayam lodoh, nasi bakar, plecing ayam, serta nasi tempong ayam. Diversifikasi menu ini diharapkan dapat menarik preferensi berbeda di kalangan penumpang dan memperluas penetrasi produk kuliner lokal ke rute-rute kereta yang relevan.
Jaringan Kereta dan Mekanisme Distribusi
Menu-menu khas Banyuwangi tersedia pada sejumlah kereta api yang berelasi dengan stasiun Ketapang dan Banyuwangi, meliputi KA Sangkuriang (Bandung-Ketapang), KA Blambangan Ekspres (Pasar Senen-Ketapang), KA Wijaya Kusuma (Cilacap-Ketapang), dan KA Logawa (Purwokerto-Banyuwangi). Sistem distribusi dioperasikan dengan model di mana mitra memasak langsung dan mengirimkan produk dari stasiun ke fasilitas restorasi kereta untuk dijual selama perjalanan.
Proses pengiriman dan penjualan produk kuliner pada restorasi kereta mengandung implikasi logistik yang spesifik, termasuk pengaturan waktu pengiriman, standar pengemasan, serta mekanisme penjualan pada moda bergerak yang harus memenuhi regulasi kesehatan dan keselamatan pangan. Pendekatan ini menggabungkan kontrol mutu mitra produsen dengan kapasitas layanan KAI Services dalam sistem rantai pasok perkeretaapian.
Penerimaan Pasar dan Dampak Ekonomi
Region Head Regional 9 Jember KAI Services, Yullyandra Mursyal, menyampaikan bahwa sajian menu khas Banyuwangi telah hadir di restorasi kereta api sejak bulan Mei 2026. Meskipun terbilang baru, produk-produk ini mendapat respons positif dari penumpang; rata-rata setiap keberangkatan kereta tercatat terjual habis antara 10 hingga 20 porsi menu khas Banyuwangi.
Permintaan harian yang stabil tersebut memberi indikasi adanya peluang pendapatan tambahan bagi mitra UMKM sekaligus menambah nilai pada layanan restorasi kereta sebagai sumber pendapatan non-tiket. Praktik memasok makanan yang dimasak langsung oleh mitra juga memperkuat klaim kualitas rasa lokal yang menjadi selling point, sementara KAI Services tetap bertanggung jawab atas distribusi dan penjualan di jalur kereta.
Adopsi produk lokal dalam layanan transportasi ini dapat berdampak positif pada pemberdayaan ekonomi daerah karena membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM serta menciptakan sinergi antara sektor transportasi dan industri pangan lokal. Ke depan, pemantauan penjualan dan umpan balik penumpang akan menjadi indikator kunci untuk menentukan potensi perluasan program ke rute lain.





