Menkeu Purbaya Klaim Rupiah Kembali Pulih, Redam Tekanan Pasar!

Jakarta, Maret.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan nilai tukar rupiah yang melemah dapat segera pulih karena belum berdampak signifikan pada fiskal dan aktivitas ekonomi di Indonesia.
Kondisi Fiskal dan Proyeksi APBN 2026
Pemerintah saat ini mengantongi perhitungan terkait depresiasi rupiah yang terus terjadi dan menyiapkan data untuk nilai tukar rupiah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Langkah tersebut menggambarkan upaya mitigasi fiskal agar target anggaran tetap realistis dan dapat dijalankan meskipun terjadi tekanan di pasar valuta asing.
Fokus Kebijakan Ekonomi Domestik
Dalam penjelasannya pada Minggu (31/5/2026), Purbaya menegaskan bahwa prioritas pemerintah adalah memastikan kekuatan ekonomi domestik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. “Secara teori, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, mata uang Anda pada akhirnya juga akan menguat, bukan? Saat ini, saya fokus memastikan bahwa ekonomi domestik akan terus tumbuh kuat dalam jangka menengah, jangka pendek, maupun jangka panjang,” kata Purbaya pada Minggu (31/5/2026).
Daya Tarik Investasi dan Posisi Indonesia di Kancah Global
Menurut Menkeu, kondisi perekonomian yang terjaga akan menarik investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) dan minat investor asing lainnya untuk menempatkan modal di Indonesia. Purbaya juga menyebut bahwa di antara negara G20, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada posisi kedua setelah India, yang menjadi salah satu argumen bahwa prospek ekonomi domestik tetap kuat meski rupiah melemah.
Pemerintah menilai pelemahan rupiah hingga saat ini belum menimbulkan hambatan nyata terhadap aktivitas ekonomi domestik sehingga ruang kebijakan fiskal dan moneter masih dapat difungsikan untuk merespons kondisi makro. Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan otoritas fiskal bahwa dampak langsung ke penerimaan negara dan belanja publik masih terkendali.
Pengaruh Geopolitik terhadap Stabilitas Nilai Tukar
Menkeu juga menunjukkan korelasi antara dinamika geopolitik global dan tekanan pada nilai tukar, khususnya situasi yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. “Saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan situasinya akan jauh lebih baik daripada sekarang. Artinya, gangguan-gangguan yang sampai batas tertentu menyebabkan pelemahan rupiah juga akan hilang. Itu berarti pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan rupiah yang lebih kuat pula,” ujar Purbaya.
Pernyataan tersebut menggambarkan ekspektasi bahwa penurunan ketidakpastian global dapat meredam volatilitas pasar valuta dan memberi ruang bagi penguatan modal asing. Implikasi kebijakan yang mungkin ditempuh adalah penajaman komunikasi kebijakan guna menjaga sentimen investor dan memitigasi dampak fluktuasi nilai tukar pada sektor riil.
Otoritas fiskal diharapkan terus berkoordinasi dengan otoritas moneter dan regulator terkait untuk memantau perkembangan arus modal, neraca pembayaran, serta eksposur sektor korporasi terhadap risiko valuta. Upaya itu penting agar penyesuaian nilai tukar tidak berujung pada gangguan sistemik yang dapat menekan aktivitas ekonomi secara lebih luas.





