BI Naikkan Suku Bunga Acuan, Rupiah Menguat; Modal Asing Borong SRBI

Jakarta, Maret.id —Bank Indonesia (BI) mulai melihat dampak positif dari penguatan bauran kebijakan moneter yang dijalankan, tercermin dari membaiknya sentimen pasar domestik dan kembalinya aliran modal asing ke pasar keuangan nasional. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso memaparkan perkembangan dinamika pasar keuangan dan stabilitas nilai tukar pada Jumat (12/6/2026).
Aliran Modal Asing Menguat
Pasca kebijakan pengetatan moneter, pasar menunjukkan respons yang lebih kondusif bagi investor asing, terutama setelah kenaikan suku bunga acuan. “Pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut,” kata Ramdan.
Masuknya dana asing terlihat dari pemantauan hasil lelang instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang digelar pada pertengahan minggu ini. Aliran masuk modal asing juga dilaporkan mulai kembali terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dengan fokus pada tenor pendek dan menengah.
Dampak Terhadap Nilai Tukar dan Pasar SBN
Tekanan terhadap pasar SBN yang sempat terjadi mulai mereda seiring meningkatnya minat investor terhadap imbal hasil instrumen domestik. Kondisi ini memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat.
Diketahui, mata uang rupiah pada Jumat (12/6/2026) pagi terpantau menguat 59 poin atau sekitar 0,33 persen ke posisi Rp17.930 per dolar AS setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya sempat tertahan di level Rp17.989 per dolar AS. Penguatan tersebut menandai pergeseran sentimen pasar dari tekanan menuju stabilisasi nilai tukar.
Strategi Stabilisasi Berlapis oleh Bank Indonesia
Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk terus mengawal pergerakan pasar keuangan demi menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. “Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing,” ujar Ramdan.
Sebagai bagian dari upaya antisipasi terhadap potensi gejolak mendadak, BI menyiagakan serangkaian langkah intervensi baik di pasar domestik maupun pasar luar negeri (offshore) secara disiplin dan terukur. “Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi NDF di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik secara konsisten dan terukur,” tambahnya.
Langkah-langkah tersebut diposisikan untuk menjaga volatilitas berlebih pada pasar keuangan dan memastikan bahwa imbal hasil instrumen domestik tetap kompetitif bagi investor asing. Kondisi terkini menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan suku bunga, dukungan pasar surat berharga, dan kesiapan intervensi telah menjadi faktor penting dalam mengembalikan arus modal.
BI tetap memantau perkembangan eksternal yang berpotensi memengaruhi aliran modal dan nilai tukar, termasuk dinamika suku bunga global dan kondisi likuiditas internasional. Penguatan koordinasi kebijakan dan komunikasi kepada pelaku pasar menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan momentum stabilisasi yang mulai terlihat.





