Ekonomi

KAI Menargetkan Pengurangan Emisi Sebanyak 133.676 Ton CO2e Melalui Penggunaan B50

Jakarta, Maret.id — PT Kereta Api Indonesia (KAI) menargetkan pemangkasan emisi sebesar 133.676 ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) melalui program penggunaan biodiesel B50. Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya dekarbonisasi yang lebih luas yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan dari sektor transportasi.

Misi Dekarbonisasi KAI

KAI bertujuan untuk mencapai total pengurangan emisi mencapai 166.873 ton CO₂e melalui tiga program utama. Pencapaian target ramah lingkungan ini diharapkan juga akan didukung oleh peningkatan efisiensi energi listrik serta program konservasi karbon yang sedang berjalan.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan, “Transformasi energi Indonesia membutuhkan sektor transportasi yang mampu beradaptasi secara terukur. KAI memperkuat peran kereta api dengan roadmap biodiesel dari B0 menuju B50, dan memastikan setiap tahapan berjalan selaras dengan keselamatan dan keandalan layanan.”

Uji Coba dan Implementasi B50

Menurut Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, uji coba penggunaan biodiesel B50 telah dimulai sejak bulan April 2026. Pengujian ini melibatkan lokomotif CC206 pada Kereta Api (KA) Sembrani yang telah digandeng bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memastikan kelayakan bahan bakar tersebut.

Anne menekankan pentingnya evaluasi performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, dan aspek emisi dalam pengujian. “Prinsip kami jelas, transisi energi harus sejalan dengan keselamatan dan keandalan operasi,” ujarnya.

Dukungan Energi Berkelanjutan

Berdasarkan informasi terbaru, KAI telah melaksanakan uji ketahanan dinamis generator set (genset) selama 2.400 jam di Yogyakarta. Pengujian ini dilakukan untuk memastikan mesin MTU 2000 P02411 berfungsi maksimal dalam mendukung operasional kereta.

Dukungan dari pemerintah dengan alokasi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi juga menjadi kunci agar layanan kereta tetap tersedia bagi masyarakat dan sektor logistik. Hingga tanggal 5 Juni 2026, realisasi pemakaian bahan bakar bersubsidi KAI telah mencapai 95.394.629 liter.

Anne menegaskan, “Dalam masa transisi energi ini, dukungan BBM bersubsidi sangat membantu KAI menjaga keberlangungan operasional sambil beralih ke penggunaan energi yang lebih rendah emisi secara bertahap.” KAI berkomitmen untuk terus melanjutkan inovasi dan perbaikan dalam rangka mencapai tujuan dekarbonisasi yang telah ditetapkan.

Pihak regulator juga melakukan kolaborasi dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk memastikan kelancaran implementasi penggunaan biodiesel ini.

Dengan langkah-langkah yang terencana dan dukungan dari beragam pihak, KAI optimis dapat mencapai target ramah lingkungannya sekaligus memberikan layanan transportasi yang aman dan efisien bagi masyarakat.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button